marco!March 13th Male Jakarta
Marco Anjasmoro
Started with one Western name,
ended with a Javanese one,
in a complete oriental package.
Don't ask.
Loves :
evening chat in a chill lounge,
a pack of cigarette over coffee,
lazy Sundays on comfy bed,
clubs on Fridays or Saturdays,
blogs,
reality TVs,
midnight snacks,
movies on Mondays,
torn up jeans+sneakers,
my iTunes playlist,
Katherine McPhee
|
 |
Tuesday, November 24, 2009
People say I'm the life of the party, because I tell a joke or two. Although I might be laughing loud and hearty, deep inside I'm blue.
So take a good look at my face. You'll see my smile looks out of place. If you look closer, it's easy to trace the tracks of my tears.
Outside I'm masquerading. Inside my hope is fading. Just a clown, since you put me down. My smile is my make up I wear since my break up with you.
So take a good look at my face. You'll see my smile looks out of place. If you look closer, it's easy to trace the tracks of my tears.
Suddenly find the urgency to write again. At these times, I find it the only way to keep me insane. Yes, it's a song. Thanks to Adam Lambert for singing the song.
Don't ask. ... Please.
Posted at 10:01 pm by marco!
Permalink
Friday, November 20, 2009
Sumpah pemilik blognya belum meninggal!!!! Hohohoho... Watsap people! It's been 7 months and I just haven't updated anything. For a quick recap of what happened in the past 7 months : new place to work, a sudden-millionaire, and fell in love with 2 wrong persons (doh, curhat).
So I guess I'll see ya guys vewwwwwy soon. :)
Posted at 08:38 pm by marco!
Permalink
Tuesday, April 21, 2009
Udah jadi tradisi di kantor saya bahwa setiap berita kelahiran diumumkan ke seluruh jagat kantor. Penting nggak penting memang, karena ritual ini akhirnya dijadiin ajang unjuk kreativitas emak-babenya dalam memilih nama. Somehow, saya selalu tertarik buat tau nama apa lagi yang diberikan ke makhluk-makhluk yang menyandang status New Entry di bumi ini. Salah satunya :
AZZAHRA FAWNIA ALTHAFUNNISA
Cantikkkkk. Meski mungkin semasa sekolah atau kerja dia harus repot menjelaskan namanya ke staff administrasi : "AZZAHRA. Z-nya dua ya." Oh oh. Atau yang baru aja mendarat di bumi akhir minggu lalu :
TIBIADZKA KEIKO ABIMATA
Kece ya? Meski saya yakin semasa remajanya ia akan jengah menjelaskan bahwa bapak ibunya bukan karyawan perusahaan jam tangan terkenal dari Jepang.
Eniwwwei. Kecanggihan nama anak-anak sekarang kadang bikin saya mikir. Hebat ya orang tuanya. Bisa gitu lho, kepikiran nama-nama yang dulu nggak kepikir sama sekali. Dulu mentok-mentok Budi, Wati, atau Iwan. No offense buat penyandang nama-nama itu ya. Saya nggak bilang jelek lho. Cuman emang kalah spektakuler aja dari bayi-bayi sekarang yang kedapetan nama yang mengandung huruf Z atau kombo huruf 'sy', 'zh' dan 'zy'. Tapi untung juga trend nama kece ini baru berlaku sekarang. Do you ever wonder, what will happen if KARTINI was named ISABELA?
PS. Selamat Hari ISABELA! Eh. Kartini!!!
Posted at 02:27 pm by marco!
Permalink
Monday, April 20, 2009

Perkenalkan teman saya, Miss B. A woman in her late 20s, or maybe early 30s. Single, and (looks) happy with her life. Very smart. Definitely loves her job so much, mengacu pada fakta bahwa dia udah menggauli pekerjaannya sekarang lebih dari 5 tahun. In short, PURE YIFFIES. She can have anything in her life. ...sampai akhirnya saya menemukan sebuah fakta menarik dari sebuah perbincangan dengan temen perempuan saya yang lain di depan lift.
Me : 'Bo. Orang itu namanya siapa ya?' Berbisik, saya menunjuk satu laki-laki yang lagi berdiri manis depan lift Her : 'Mr. X' Me : 'Oh. Bagian mana ya?' Her : 'Nggak tau. Yang pasti dia pacarnya Miss B.' Me : WHAT? Seriously?? Her : HUSH. Udah deh, nggak usah berisik. Itu udah rahasia umum. Me : Kalo udah jadi rahasia umum kenapa nggak boleh berisik? Her : 'coz he's married.
Mengutip kata komedian berinisial K yang paling saya benci sesudah Cagur : Uhuy! Ain't life full of surprises. Actually, I really don't mind office affairs. Been dealing with it for ages, tapi tentu bukan sebagai pelaku utama. Cukup menjadi pendengar yang baik di tengah malam buta, nemenin orang handstand saat ngeliat pacarnya mesra-mesraan sama pasangan sahnya di depan mata, sampai nungguin orang selesai mewek waktu akhirnya diputusin sama pasangan sebenernya. Yang lebih mengganggu sebenernya adalah fakta bahwa ini terjadi sama seseorang yang (menurut saya) kelihatannya nggak akan bertekuk lutut sama seorang laki-laki yang udah punya istri.
Me : 'Seriously? Bo. Miss B nggak mungkin deh seperti itu.' Her : 'Kenapa enggak?' Me : 'Miss B gitu loh. She doesn't need men in her life. Kalaupun iya, she can have ANY MAN SHE WANTS in her life!!' Her : 'Well maybe SHE CAN'T.'
Ohohoho. Lesson #1 learned : Sekeras apa pun benteng yang (keliatannya) dibentuk seseorang, ternyata masih ada bagian lemah di dalamnya yang tetep rapuh kalau disentuh dengan manis. Or is it just women? I don't know. You tell me. Meanwhile, masih ada satu hal lagi yang belum tuntas diselesaikan.
Me : 'Well, let's then assume that she CAN'T. Tapi kenapa dia? Yang udah punya ISTRI??' Her : 'What's wrong with that? I also find married guys attractive.' Me : 'WHAT???' Her : 'Lho emang kenapa? Pertama, terbukti mapan. Kalo udah punya anak, terbukti it 'worked'! What else?' Me : 'But it would only make you sound like a bi**h!' Her : 'Hey. Wanting some perfection is not a crime, right?'
Well. She got her point there. Emang sih, nggak ada benchmark legal ataupun ilegal dari 'perfection', terutama kalau yang berbicara adalah hati. Tapi yang saya masih belum ngerti (dan mencoba untuk ngerti) adalah bahwa kesempurnaan ini didapat dari orang yang udah menikah. SEANDAINYA, orang yang sama persis berstatus masih lajang. Would you still go for it? Apa ini cuman terjadi sama perempuan? Atau semua seperti itu? Buat laki-laki sih, (rasanya) biasanya adrenalin emang lebih terpacu kalau orang diincer ini sudah punya pasangan. Tapi menikah? Hummm...saya sih nggak pernah berpikir untuk mencoba melangkah ke sana ya. Soalnya saya sendiri nggak mau satu hari nanti itu terjadi sama saya.
Jadi mari kita tutup renungan kecil hari ini dengan mengulang pertanyaannya dengan sebuah contoh sederhana. Did you REALLY find SBY more attractive than...umm.. Krisna Mukti?? Wait. Salah contoh. Did you REALLY find SBY more attractive than... Bams Samsons?? Ya apa pun lah contohnya. I would like to know the (most logical) reason why.
Posted at 10:40 pm by marco!
Permalink
Wednesday, April 15, 2009
Love makes you do irrational things
Sometimes, we need some other people to tell us what's currently happening to us.
Teman #1 : So? Saya : So, I finally bought them. Teman #1 : THEM? Saya : Yes. Instead of 1, I decided to buy three. Teman #1 : THREE?? Waw. You ARE in love.
Dalam kesempatan lain,
Saya : So that's what happened. Teman #2 : Ya udah, tungguin aja. Saya : I should. But I don't want to. Teman #2 : God. You're really in love right now, aren't you?
Dalam kesempatan lain lagi,
Teman #3 : Gimana, udah dikasih? Saya : Udah. Teman #3 : Terus? Saya : Ya gue datengin rumahnya sebelum ketemu sama lo. Teman #3 menarik napas panjang. Membuat saya sadar bahwa jarak yang saya tempuh jika boleh dihiperboliskan sama dengan jarak Merkurius-Pluto, pulang pergi. Dan tanpa dia mengeluarkan kata-kata, saya mengerti bahwa dia menutup pembicaraan dengan reaksi yang sama.
Oh well. Like I said, sometimes we need some other people to tell us what's currently happening to us. Even if we already knew it, sometimes we need to be reminded how it can make you do irrational things sincerely.
Ngeloyor pergi sambil bersenandung : It's joy, it's ecstacy, it's truth, it's destiny And even love is not enough to tell you how you make me feel It's faith, it's honesty, it's life, it's everything To say "I love you"'s not enough to tell you how you make me feel It's BLISS
Posted at 06:06 pm by marco!
Permalink
Friday, April 03, 2009
is it ever enough, when it's just enough?
Belum lama ini saya merasa digampar sama sebuah kalimat yang diucapkan karakter paling cacat gaya dalam sejarah industri film televisi. Betty Suarez.
Kondisinya di situ adalah waktu Daniel Meade memaksa pacarnya yang terkena kanker untuk mengambil peluang pengobatan yang ada. Tujuan yang diharapkan tentu adalah perpanjangan umur, yang menurut Daniel sangat berguna buat mereka berdua. Sayangnya si pacar menolak.
Di situlah (seperti biasa) dia dihajar Betty Suarez dengan sebuah petuah bijaksana.
"Sometimes you can't get more. Sometimes you have to take what you get."
Dijembrengi kalimat itu awalnya saya protes.
Apa yang salah sih dengan berharap lebih?
Kenapa kita nggak boleh berharap mendapat sesuatu yang lebih?
Buat saya itu manusiawi. Banget.
Prinsip itu juga yang saya pegang waktu saya memutuskan untuk memenangkan ego saya dalam urusan hati. Saya menantang diri saya untuk melangkah ke level baru dalam sebuah hubungan. Sayangnya, level yang menurut saya sangat sederhana ini ternyata tidak memberikan sensasi seperti yang diharapkan dari pihak sana.
Saat itulah saya sadar, bahwa memasuki batasan 'lebih' bisa menjadi suatu hal yang buruk.
Malah bisa merusak hal-hal manis yang sudah dirajut sebelumnya.
Mungkin... mungkin lho ini... emang udah jadi kodrat manusia diciptakan dengan sifat serakah. Wait. Serakah nggak terlalu sedep didenger. Tidak-mudah-puas. That's better.
Kadang kita terlalu fokus dengan kondisi 'lebih' yang ideal, yang biasanya kita ciptakan sendiri. Sayangnya, kita tidak mempertimbangkan pihak lain yang kita libatkan dalam kondisi ideal ini.
Sebuah hal manis, yang ironisnya..egois.
Lalu apa inti dari semua kacrut panjang yang tertulis di sini?
Kalo ditanya apakah ada batas dari sebuah kepuasan, jawabannya pasti enggak. Meminjam kata-kata Boris Dlugosch & Roisin Murphy : is it ever enough, when it's just enough?
Kita selalu akan mencoba untuk mencapai (minimal) satu level lebih tinggi dari apa yang kita punya sekarang. But then again, are you ready for the consequences?
Saya cuman berharap, kalo suatu hari penyesalan itu datang, mudah-mudahan wujudnya tidak berupa sosok Betty Suarez yang menghantui setiap mimpi kita dengan kata-katanya itu tadi.
It's just scary.
Posted at 01:59 pm by marco!
Permalink
Thursday, March 19, 2009
tentang naksir-naksiran - part 2
Ummmm. Nanya dikit dong. Kalo seandainya, ada temen kita yang bilang bahwa orang yang lagi kita sosor (baca : naksir) mirip sama satu sosok yang menurut kita JELEK, tersinggung nggak?
Hm. Contoh. Untuk yang laki. Kalo ada yang bilang perempuan yang lagi kita keceng, mukanya mirip MEGAWATI, tersinggung nggak? Atau untuk yang perempuan. Kalo ada yang bilang laki yang kita keceng, mukanya mirip RUDY CHOIRUDDIN, tersinggung nggak?
...kok saya tersinggung ya? [CATATAN PENTING : bukan berarti saya lagi naksir orang yang mukanya mirip MEGAWATI atau RUDY CHOIRUDDIN ya...]
Posted at 06:38 pm by marco!
Permalink
Wednesday, March 18, 2009
tentang naksir-naksiran - part 1
 Jadi gini. Apart from all the warm and kind birthday wishes I had, this year's birthday is a complete disaster. Alasannya cuma satu : tidak mendapatkan ucapan selamat dari orang yang justru paling ditunggu-tunggu. Sederhana, tapi efeknya nggak kalah dahsyat dari perempuan yang menjelang masa menopause. Well. Pisces. Eniwei. Mau ngingetin langsung ujung-ujungnya mentok di dua kata : GENGSI sama HARGA-DIRI. Somehow saya punya temen-temen baik yang SANGAT suportif menyangkut dua hal ini : {sparks} : bukannya tiap lo naksir orang, harga diri lo turun drastis? inuyniy : berapa siy harganya? bisa tuker tambah sama tabloid favorit lo ga? emm : ikut patungan deh beliin kamu harga diri!! {sparks} : harga dereeeeeeeee?? berapa sikkk? gue beli sinihhhhhh.. Kentut. Tidak mendapatkan dukungan yang diharapkan, saya pun mencoba menelepon salah satu sepupu saya yang khatam luar dalam dunia perbintangan. Sayang pamornya mentok di kalangan keluarga. 'Listen. I'm sooo gonna bother with you with a very unimportant question. Gimana cara menaklukkan ******?'. Saya. Nama zodiak disamarkan dulu ya. 'Oh. Beliin hadiah.' Tenang. Dan terdengar sangat yakin. DANG. I've heard about this reputation before. Never imagined I would actually deal with one. Eh. RALAT. Never imagined I would eventually fell for this one. 'Harus ya?' 'Iya. Beliin apa kek. Barangnya tapi bukan kayak puisi atau pantun gitu ya. Harus sesuatu yang bisa DILIHAT dan DIPEGANG.' '..' 'Mereka soalnya ngeliat effortnya dari seberapa besar lo mau ngeluarin uang.' '........... MATRE YA.' 'Well. Dan lo nggak bisa ngambek-ngambekan ya sama orang-orang ini ya. Mereka nggak peka.' Mendadak merasa seperti digiles truk. 'Dam**t! Orang ini belom nyelametin gue sampe sekarang. Dan rencananya mau gue diemin. Nggak bakal gue ingetin.' 'Nggak guna. Nggak bakal nyadar dia. Orang-orang ini cuma baca hal-hal yang tersurat.' 'Gue diemin nggak nyadar???' 'Boro-boro didiemin. Lo sindir juga nggak bakal ngerti.' 'Jadi gue harus bilang LANGSUNG ke dia : eh-gue-nggak-suka-lo-lupa-ulang-tahun-gue. GITU??' 'Jangan lupa bilangnya sambil beliin donat ya.' 'Trus abis itu dia nyadar?' 'Hm. Tergantung upetinya sih. Dunkin Donut sama Krispy Kreme beda lho...' Mendadak merasa seperti digiles truk yang disetir sama orang mabok inex. 'Bo. Lo membuat semua ****** terdengar seperti pecun deh.' 'Tapi mereka SETIA kok.' 'Ya kalo udah dibeliin barang mahal terus nggak setia ya GUE GAMPAR JUGA.' Dan pembicaraan depresif pun berakhir. Meninggalkan sebuah PR besar buat saya : harus ya diterusin? Secara sebagai Pisces mood-swing saya luar biasa dahsyat dan hanya bisa ditandingi oleh perempuan yang belum punya suami tapi sudah harus menyongsong era menopause. Belum lagi kalo saya lagi mematok harga diri saya setinggi harga gerbang Neverland-nya Michael Jackson. Yang artinya, hubungan yang akan dijalani ini tentu akan membuat hati saya harus menguasai teknik akrobat tingkat tinggi. Hhhhhhhh.... keputusan sulit...
PS. Yes, I do buy these craps on zodiac and stuffs.
Posted at 05:23 pm by marco!
Permalink
Monday, March 09, 2009

Beneran deh. Saya mulai terganggu dengan pandangan orang-orang setiap kali saya bawa payung turun dari mobil. Saya kan nggak ada maksud joget-joget kayak Rihanna. Jelas-jelas HUJAN. Apa ada aturan main tak tertulis yang menggariskan payung sebagai bawaan perempuan? Coba, adakah yang bisa memberikan penjelasan logisnya?
Posted at 11:51 pm by marco!
Permalink
American Idol 2009 - Year of The Gentlemen

OHOHOHO. Tadinya saya mau mulai nulis soal acara ini dari jamannya 36 besar. Tapi setelah dipikir-pikir, mending nunggu Top 12 Top 13-nya aja. Selain mbak ini, ada yang masih ngikutin? Coba ikutin deh. Ada beberapa hal menarik yang ada di AI tahun ini. First of all, as we can all see, this year is definitely the year of the gentlemen. Cuma 5 perempuan yang direstui masuk. Sementara lakinya ada 8 aje dulu. Which is good, I think. Daripada maksain komposisi 6-6 tapi ternyata mutunya timpang kayak tahun lalu? Hal lain yang juga saya lihat ada tahun ini adalah betapa gado-gadonya Top 13 tahun ini. You name it, semua ada di sini. Ada Kaukasia asli, duda, current artists, buruh minyak lepas pantai, African-American, orang buta, Latin, boring opera singers, Asia. We even have a red-head this year! Wow. American Idol bener-bener ngejar setoran rating tahun ini.
And, as usual. Mari kita cek-cek ombak peta kekuatan tahun ini, berdasarkan pengalaman terlibat di acara yang sama versi Indonesia dan sedikit suntikan naluri Simon Cowell. So, I'm dividing these 13 talents into 3 big groups.
A. Early Losers Michael Sarver is the first name that crossed my mind for this pack. Yes he has a good voice, and yes he is a nice guy. Tapi dua hal tadi jadi kentang (kena tanggung -red) kalo semua 13 orang ini dikumpulin jadi satu. We have better voices, and we have better personalities. So maybe, MAYBE, he will be the first to go. Jasmine Murray will also be one of the early losers. Terlalu hijau, dan masih suka fals. She will struggle finding songs that fits her. Kalaupun dia nggak keluar di awal-awal, mungkin karena masih dibutuhkan perempuan di kompetisi ini, atau karena dia African-American. Tanpa bermaksud rasis. Alexis Grace or Latino Jorge Nunez or (hopefully) Scott MacIntyre. The only reason I put Alexis here is because she's less popular than the other contenders. Tipe Ramiele Malubay di season lalu, yang mungkin akan berakhir membosankan. Kecuali dia bisa kasih sesuatu yang spektakuler berat seperti nyanyi sambil kayang. Si Latin? Sutra lah... Rasanya sampai 10 besar juga udah bagus. Suara sih boleh aja bagus, tapi dia nggak cakep. Bukan bermaksud kasar, tapi dimana-mana orang mau liat tampang di TV. Tambah lagi terlahir sebagai Latin, yang tentunya standar minimalnya adalah seorang Ricky Martin atau Enrique Iglesias (dengan atau tanpa tahi lalat). Dengan alasan yang kurang lebih sama, Scott MacIntyre HAS TO BE SENT HOME EARLY. Kalau kemaren mungkin sempet nangis bombay ngeliat dia nyanyi, mungkin lebih karena simpati. If he's not blind, would you also be crying yourself out loud? Bo, sudahlah. Kembali ke pertanyaan yang biasanya saya ajukan ke diri sendiri kalau mulai bimbang meloloskan orang atau nggak : do you wanna have him as an Idol? Well I don't. He may sing like Archuleta, but unfortunately he doesn't have the look. Dia sudah pasti nggak bisa nyanyi lagu tempo cepet. At least sampai sekarang saya belom liat dia joget-joget pake lagu tempo cepet ya. Saya termasuk kecewa produser memasukkan dia sampai babak voting, karena orang akhirnya susah jadi obyektif kalau harus vote. Tapi atas nama konten cerita dan rating... yaaaa saya maafkan lah. Meskipun rada berat ya. Saya cuman berharap juri bisa obyektif mengarahkan penonton kalo emang dia perform jelek, dan tidak mengandalkan pujian 'you-have-passions-and-sing-from-the-heart' thingy.
B. Middle Runners Megan Corkrey belongs in this group, meskipun di lubuk hati saya pengen dia ada di lebih lama di kompetisi ini. Suaranya unik, beda dari penyanyi lain. Masalah terbesar dia mungkin cuman di lagu. Salah pilih, selesai. Salah satu favorit saya tahun ini, Kris Allen, kelihatannya juga akan mentok di grup ini. Nasibnya mungkin akan mirip sama Chris Richardson yang juga jadi chick-magnet di Season 6. Tidak se-groovy Chris, tapi (sedikit) lebih kece. Sayang pamornya agak kelindes sama kontestan-kontestan lain yang sudah diekspos ceritanya dari awal. We'll see. Mudah-mudahan dia bisa kasih sesuatu yang spektakuler, yang bisa bikin orang inget sama dia. Next on the line would be the red-head Allison Iraheta. She has a bubbly personality, and she can sing. Kalau dia pilih lagunya bener, mungkin dia bisa jadi perempuan terakhir di tahun ini. Like Simon said, she's the dark horse of the competition.
C. The Top of The Packs Sejujurnya saya agak susah menebak siapa yang akan jadi juara tahun ini. Would it be Anoop Desai? Really hard to tell. Tapi yang pasti produk impor dari India ini emang lagi jadi idola di sana. Denger aja sorak sorai penonton selesai dia nyanyi. Mungkin ada pengaruh juga dari 'Slumdog-Phenomenon' yang bikin orang Amerika mendadak sontak jadi Indian-minded. But look at him. Siapa sih yang nggak suka ngeliat dia? He's just way too adorable. And he can sing. Way better than Sanjaya Malakar. So I think he deserves a spot in the final 5. Mungkin kalo alisnya dirapiin sedikit, saya setuju dia sampai tiga besar. Lil Rounds might be the last woman standing this year, eventhough I'm not a big fan of her. Tekniknya sih juara berat. Tapi menurut saya tipe kayak gini udah banyak. Kalo dia nggak keluar dari paradigma Whitney Houston atau Jennifer Hudson, bisa jadi orang bosen dan lebih milih Allison Iraheta. Satu-satunya alesan kenapa saya taruh dia di grup ini adalah karena dia kulit hitam. Bukan bermaksud rasis ya. Reality bites. Just look what happened to Syesha Mercado last year. Another favourite of mine would be the soulful singer Matt Giraud. I think he's this year's Elliot Yamin. Dia mestinya lebih beruntung karena secara keseluruhan paketnya lebih mendingan. Asal jangan tiba-tiba pilih nyanyi lagu Coldplay aja. Another lad who has a huge chance to land in the Top 5 is the Broadway artist Adam Lambert. Somehow, sampai saat ini saya masih menemukan kesulitan untuk suka sama dia. Mungkin karena terlalu obral suara tinggi. Well. I don't know. Mungkin dalam perjalanan nanti saya berubah pikiran. Satu-satunya kontestan yang baru bisa bayangin jadi juara adalah Danny Gokey. Another adorable person. Dan, baru dia yang bisa bikin saya merinding waktu nyanyi. Sayangnya produser masih mengekspos cerita sedih dia yang ditinggal meninggal istrinya. But I do hope he stays long in the competition.
There you go. Saya agak sedikit kesulitan memvonis siapa yang akan jadi 'musuh besar' tahun ini, setelah Sanjaya Malakar di Season 6 dan Kristy Lee Cook di Season 7. Agak sedikit susah membaca peta kekuatan tahun ini secara masing-masing kontestan baru dapet kesempatan nyanyi bener sekali. We'll see. So who's your favourite?
Posted at 11:33 pm by marco!
Permalink
|