marco!
March 13th
Male
Jakarta


Marco Anjasmoro
Started with one Western name,
ended with a Javanese one,
in a complete oriental package.
Don't ask.


Loves :
evening chat in a chill lounge,
a pack of cigarette over coffee,
lazy Sundays on comfy bed,
clubs on Fridays or Saturdays,
blogs,
reality TVs,
midnight snacks,
movies on Mondays,
torn up jeans+sneakers,
my iTunes playlist,
Katherine McPhee



   

<< April 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30



Days that are over will not continue to last,
if you try to construct the past..

[Sondre Lerche]

GoStats web counter
GoStats web counter


www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from marcopunya. Make your own badge here.





Personal Files

Friendster
Multiply
Previous Blog


Buddies' Blogs

Miund
Indra Febriansyah
Buhpi
Neng Manik
Saphira
Sacha
Meinyana
Pandji
Neng Lita
Baba Jessy
Odeledo
Dhank Ari
Barrie
Sekar
Anantya


Blog-Buddies

Cha
Marzland
Dody
Nien
Tyka
Sandy


Next Agenda

Java Jazz Festival 2008
Jakarta Convention Center
March 7-9, 2008




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, April 03, 2009
is it ever enough, when it's just enough?

Belum lama ini saya merasa digampar sama sebuah kalimat yang diucapkan karakter paling cacat gaya dalam sejarah industri film televisi. Betty Suarez.

Kondisinya di situ adalah waktu Daniel Meade memaksa pacarnya yang terkena kanker untuk mengambil peluang pengobatan yang ada.  Tujuan yang diharapkan tentu adalah perpanjangan umur, yang menurut Daniel sangat berguna buat mereka berdua. Sayangnya si pacar menolak.

Di situlah (seperti biasa) dia dihajar Betty Suarez dengan sebuah petuah bijaksana.

"Sometimes you can't get more. Sometimes you have to take what you get."

 

Dijembrengi kalimat itu awalnya saya protes.

Apa yang salah sih dengan berharap lebih?

Kenapa kita nggak boleh berharap mendapat sesuatu yang lebih?

Buat saya itu manusiawi. Banget.

 

Prinsip itu juga yang saya pegang waktu saya memutuskan untuk memenangkan ego saya dalam urusan hati. Saya menantang diri saya untuk melangkah ke level baru dalam sebuah hubungan. Sayangnya, level yang menurut saya sangat sederhana ini ternyata tidak memberikan sensasi seperti yang diharapkan dari pihak sana.

Saat itulah saya sadar, bahwa memasuki batasan 'lebih' bisa menjadi suatu hal yang buruk.

Malah bisa merusak hal-hal manis yang sudah dirajut sebelumnya.

Mungkin... mungkin lho ini... emang udah jadi kodrat manusia diciptakan dengan sifat serakah. Wait. Serakah nggak terlalu sedep didenger. Tidak-mudah-puas. That's better.

Kadang kita terlalu fokus dengan kondisi 'lebih' yang ideal, yang biasanya kita ciptakan sendiri. Sayangnya, kita tidak mempertimbangkan pihak lain yang kita libatkan dalam kondisi ideal ini.

Sebuah hal manis, yang ironisnya..egois.

 

Lalu apa inti dari semua kacrut panjang yang tertulis di sini?

Kalo ditanya apakah ada batas dari sebuah kepuasan, jawabannya pasti enggak. Meminjam kata-kata Boris Dlugosch & Roisin Murphy : is it ever enough, when it's just enough?

Kita selalu akan mencoba untuk mencapai (minimal) satu level lebih tinggi dari apa yang kita punya sekarang. But then again, are you ready for the consequences?

Saya cuman berharap, kalo suatu hari penyesalan itu datang, mudah-mudahan wujudnya tidak berupa sosok Betty Suarez yang menghantui setiap mimpi kita dengan kata-katanya itu tadi.

It's just scary.

Posted at 01:59 pm by marco!

kika
April 7, 2009   07:54 PM PDT
 
ini masih tentang mbak "MEGAWATI" Co? Kamu ditolak sama dia?
THER - LHA - LHU..!!
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry