Thanks to one of my late-nite-phone-friend, penyakit musiman Pisces saya muncul lagi beberapa malem lalu.
Situasinya mungkin kurang lebih seperti ini.
Seporsi besar rasa kangen, dicampur sedikit sindrom 'ih-lagu-ini-gue-banget'; aduk rata.
Tambah sedikit es batu bila suka; lalu nikmati saat bengong di kamar gelap, sembari ngerokok, sambil inget-inget masa lalu.
Hasilnya? PARRRRRRRRRRRRRRRRRAH BOS!
Mendadak merasa Dubai kayak tetangga seberang rumah; bisa dicapai sekali koprol.
@#&^(%#@ \@#^(`@ #$@#*!!?
Ketek.
Kangen.
Gawat. Kalo kayak gini, segala lagu murahan yang tema besarnya kangen bisa jadi favorit. Nggak menutup kemungkinan lagu-lagu Om Ebiet dan Tante Dian (Pisesa. Eh..Piesesa. Eh. Pishesa. Phisesa. Pieshesa? Piesesha. Watever. Itulah pokoknya).
Nah, salah satu lagu terkutuk yang lagi ada dalem playlist saya ya lagu ini.
Nggak perlu saya kasih tau siapa penyanyi, pencipta dan judul lagunya yaaa.
Nikmati aja lirik dan kekronisan akut yang mungkin dibuatnya.
Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi
Aku semakin tersiksa karna tak memilikimu
Kucoba jalani hari dengan pengganti dirimu
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku?
Tuhan, maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta..
..dia.
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku?
Tuhan, maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta..
..dia
Aku terlalu cinta..dia
Sigh.