marco!March 13th Male Jakarta
Marco Anjasmoro
Started with one Western name,
ended with a Javanese one,
in a complete oriental package.
Don't ask.
Loves :
evening chat in a chill lounge,
a pack of cigarette over coffee,
lazy Sundays on comfy bed,
clubs on Fridays or Saturdays,
blogs,
reality TVs,
midnight snacks,
movies on Mondays,
torn up jeans+sneakers,
my iTunes playlist,
Katherine McPhee
|
 |
Wednesday, December 19, 2007
analisa & teori tak bermutu seputar idola Asia
Senin sore gerombolan RumpiSari berkumpul lagi di sebuah coffeeshop di Kemang. Niat hati mengupdate kegiatan dunia maya secara gratis. Empat laptop dijembreng laksana eksekutif muda masa kini. Apa daya jaringan kacrut. Jadi lah agenda beralih ke satu bentuk kegiatan yang mendasari munculnya nama gerombolan ini. Eits, jangan salah. Gerombolan RumpiSari bukanlah kelompok gosip semata. Kami hanya menganalisa hal-hal aktual dengan berbagai teori yang diracik sendiri. Dan kemarin, tertuduh utamanya adalah Mas ini.
Perkenalkan. Namanya Hady Mirza. Yes, artis. Idola Singapura gitu. Tapi itu nggak terlalu penting. Yang lebih menyesakkan adalah kemenangannya atas wakil tuan rumah, yang notabene adalah Indonesia. DAN, seperti layaknya jutaan penduduk nasionalis (baca : kurang sportip) lainnya, gerombolan RumpiSari pun tak mau ketinggalan.
Teori Pertama : "Kalo gue sama nyokap gue mikirnya gini bo. Singapur itu kan KECIL ya, tapi penduduknya KOMPAK. Semua SMS buat dia. Nah, Indonesia? Negaranya sih GEDE ya, tapi votenya kepecah-pecah buat banyak kontestan."
Nah. Teori ini sebenernya sangat menarik, mengingat di pelajaran PMP dulu kita diajarin motto yang luar biasa yahud : bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. TAPI, dulu tujuannya supaya merdeka. Sekarang kan udah. Lalu? Seperti layaknya kaos Grifone atau sepatu Doc Martens, motto ini keliatannya cuma sekedar trend. Yang artinya, kalau diaplikasikan ke kasus ini, mungkin sekali terjadi. Tingkat Keakuratan : 20% Menurut saya yang lebih bener adalah : Singapura itu lebih KAYA, jadi wajar kalo SMS-nya jauh lebih kenceng. Itung-itungan babu deh. 5 SMS itu kan 10.000 perak ya? Di sono mungkin nggak ada artinya. Nah di sini, bisa beli telor sekilo tuh cin. Jadi, sebelum mengaplikasikan pelajaran PMP, marilah kita mencoba berpikir ala ibu rumah tangga atau anak kos yang lagi sekarat di tengah bulan.
Teori Kedua : "Gue kecewa banget deh sama sistem votingnya!! Kenapa mesti milihnya DUA sih? Pilihan satunya kan udah pasti negara sendiri. Nah, pilihan keduanya, orang NGGAK MUNGKIN PILIH YANG BAGUS! Jadi PASTI PILIH YANG JELEK!!! JADINYA MENANG DEH DIA!!!"
Walaupun disampaikan secara emosional oleh temen saya yang baru pulang suntik kurus (yang selama ini diasumsikan dengan menuai kebodohan), tapi mungkin teori ini ada benernya. Ya kebayang sih. Kalo kebetulan punya duit dan mau SMS, pilihan pertama pasti jagoan kandang sendiri. Buat pilihan kedua, saya pasti akan milih yang LEMAH. Soalnya, kalo saya milih yang kuat juga, pasti kemungkinan si pilihan kedua itu menang juga naik. Nah, sayangnya, orang Indonesia nggak menerapkan filosofi yang sama ini waktu memilih yang lemah di pilihan kedua. Tingkat keakuratan : 35% Mungkin banget sih. Kadang-kadang orang Indonesia suka merasa jenius tuh, apalagi kalo berhasil menemukan celah buat mengakali satu sistem. Nah, apesnya, ada 10.000 orang jenius tuh di Indonesia ini. Selamat ya.
Teori Ketiga : "Lo kebayang nggak sih booo? Bokap gue itu sampe bengong depan TV. Si juri Singapur aja bilang, yang punya commercial value itu Phuong Vy! COBA KITA NGIRIM DELON?!?"
Nah. Teori yang-ganteng-pasti-menang itu sebenernya teori lama di ajang kontes-kontesan kayak gini ya. Apalagi mengetahui secara sadar bahwa mayoritas penonton acara ini berjenis kelamin perempuan, dan sebagian besar berstatus ABG. Jadi, nggak mengejutkan juga sih kalo ternyata pilihan kedua setelah negara sendiri adalah kontestan yang GANTENG. Phuong Vy bisa jadi paling komersil, tapi dia NGGAK GANTENG. Helo? Nah, lebih apesnya lagi, konteks ganteng ini nampaknya sama di pikiran perempuan enam negara. Well. Minimal tiga lah : Singapur, Malay, sama Indonesia. Itung-itungan babu lagi nih ya : katakan perempuan Indonesia ada 50.000, Malay ada 30.000, Singapur ada 20.000. Cih. Hoki kali Mas-Mas ini. Tingkat Keakuratan : 40% Haduh, masih mesti dibahas lagi ya??
Eniwei. Agak ngenes juga sih menerima nasib kalah di kandang sendiri. Udah gitu dari orang yang tidak dijagokan pula. Apa pun lah sebabnya. Mungkin ada yang punya teori-teori lain yang lebih bermutu? Hehehehe....
|