marco!
March 13th
Male
Jakarta


Marco Anjasmoro
Started with one Western name,
ended with a Javanese one,
in a complete oriental package.
Don't ask.


Loves :
evening chat in a chill lounge,
a pack of cigarette over coffee,
lazy Sundays on comfy bed,
clubs on Fridays or Saturdays,
blogs,
reality TVs,
midnight snacks,
movies on Mondays,
torn up jeans+sneakers,
my iTunes playlist,
Katherine McPhee



   

<< January 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31



Days that are over will not continue to last,
if you try to construct the past..

[Sondre Lerche]

GoStats web counter
GoStats web counter


www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from marcopunya. Make your own badge here.





Personal Files

Friendster
Multiply
Previous Blog


Buddies' Blogs

Restless Heart
Miund
Indra Febriansyah
Buhpi
Neng Manik
Saphira
Sacha
Meinyana
Pandji
Neng Lita
Baba Jessy
Odeledo
Dhank Ari
Barrie
Sekar
Nana
Anantya


Blog-Buddies

Cha
Marzland
Dody
Nien
Tyka
Sandy


Next Agenda






If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, December 21, 2007
ready or not, here she comeeeeees!!!!

Buat yang merasa penting untuk diupdate soal kehadiran si gadis kontroversial di kantor saya...well, ready or not, SHE'S HEEERRRRRRREEE!!!

 

DAN, untuk menyambut kedatangannya, tiga mantan rekan kerja gadis penuh kontroversi ini makan malam bersama dalam suasana penuh duka cita.

Rekan K : 'Co lo nggak boleh gitu ah, dia sekarang udah berubah lho.'
Saya : 'Cih.'
Rekan K : 'Eeeh, beneran. Sekarang rambutnya lurus, giginya pake kawat lagi.'
Saya : 'CIH. Terus dia tadi pake baju apa ke kantor?'
Rekan K : 'Ada gitu deh. Baju abu-abu, pake rok, terus sepatunya asdkhgsdfa...'
Suara mengecil, entah disengaja atau nggak.
Saya : 'Sepatunya APAAN?'   Maklum, budek.
Rekan D : 'Sepatunya BOOTS.'   Nggak budek, tapi ingin berkontribusi memanaskan suasana.
Saya : 'HAH?!? BOOTS?????'
Rekan K : 'BUKAN DEH. Sepatu plastik-plastik gitu.'

Ya mohon maap ya kalo saya percaya dia pake boots.
Semasa bekerja di proyek yang sama dulu, gadis ini emang terkenal ca'ur dalam berbusana. Maksud hati mencontoh Sari Nila yang sering memakai obi-obi lucu di kala bekerja. Apa daya yang dimiliki iket pinggang biasa. Mungkin dengan asumsi kesamaan fungsi, akhirnya dipakelah iket pinggang itu DI LUAR. Seru ya?
Sayang nggak pernah saya foto.

Tapi nih ya. Sebelum saya dituding mencela dari FISIK, perlu saya deklarasi sedikit di sini kalo saya nggak ada masalah sama dandanan dia.
...Hmm.
Wait. 'Saya nggak masalah' rasanya kurang pas. Terlalu boong.
Oke saya ulang.
Sebelum saya dituding mencela dari FISIK, perlu saya deklarasi sedikit di sini kalo saya nggak peduli dia mau dandan kayak apa. The only issue I have is the way she deals with people at work. DAN, alhamdulillah Tuhan masih setia di jalur-Nya : mendengarkan doa orang tertindas. Saya nggak harus berurusan sama dia. HUAHAHA!

...
Udah ah. Jadi kepancing ngomongin orang deh..
Nggak baik ah. Hihihi.

Posted at 01:38 am by marco!
Comments (5)  

Wednesday, December 19, 2007
analisa & teori tak bermutu seputar idola Asia

Senin sore gerombolan RumpiSari berkumpul lagi di sebuah coffeeshop di Kemang.
Niat hati mengupdate kegiatan dunia maya secara gratis. Empat laptop dijembreng laksana eksekutif muda masa kini. Apa daya jaringan kacrut. Jadi lah agenda beralih ke satu bentuk kegiatan yang mendasari munculnya nama gerombolan ini.
Eits, jangan salah. Gerombolan RumpiSari bukanlah kelompok gosip semata. Kami hanya menganalisa hal-hal aktual dengan berbagai teori yang diracik sendiri. Dan kemarin, tertuduh utamanya adalah Mas ini.



Perkenalkan.
Namanya Hady Mirza. Yes, artis. Idola Singapura gitu. Tapi itu nggak terlalu penting. Yang lebih menyesakkan adalah kemenangannya atas wakil tuan rumah, yang notabene adalah
Indonesia. DAN, seperti layaknya jutaan penduduk nasionalis (baca : kurang sportip) lainnya, gerombolan RumpiSari pun tak mau ketinggalan.

Teori Pertama :
"Kalo gue sama nyokap gue mikirnya gini bo. Singapur itu kan KECIL ya, tapi penduduknya KOMPAK. Semua SMS buat dia. Nah, Indonesia? Negaranya sih GEDE ya, tapi votenya kepecah-pecah buat banyak kontestan."

Nah. Teori ini sebenernya sangat menarik, mengingat di pelajaran PMP dulu kita diajarin motto yang luar biasa yahud : bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. TAPI, dulu tujuannya supaya merdeka. Sekarang kan udah. Lalu? Seperti layaknya kaos Grifone atau sepatu Doc Martens, motto ini keliatannya cuma sekedar trend.
Yang artinya, kalau diaplikasikan ke kasus ini, mungkin sekali terjadi.
Tingkat Keakuratan : 20%
Menurut saya yang lebih bener adalah : Singapura itu lebih KAYA, jadi wajar kalo SMS-nya jauh lebih kenceng. Itung-itungan babu deh. 5 SMS itu kan 10.000 perak ya? Di sono mungkin nggak ada artinya. Nah di sini, bisa beli telor sekilo tuh cin. Jadi, sebelum mengaplikasikan pelajaran PMP, marilah kita mencoba berpikir ala ibu rumah tangga atau anak kos yang lagi sekarat di tengah bulan.

Teori Kedua :
"Gue kecewa banget deh sama sistem votingnya!! Kenapa mesti milihnya DUA sih? Pilihan satunya kan udah pasti negara sendiri. Nah, pilihan keduanya, orang NGGAK MUNGKIN PILIH YANG BAGUS! Jadi PASTI PILIH YANG JELEK!!! JADINYA MENANG DEH DIA!!!"

Walaupun disampaikan secara emosional oleh temen saya yang baru pulang suntik kurus (yang selama ini diasumsikan dengan menuai kebodohan), tapi mungkin teori ini ada benernya.
Ya kebayang sih. Kalo kebetulan punya duit dan mau SMS, pilihan pertama pasti jagoan kandang sendiri. Buat pilihan kedua, saya pasti akan milih yang LEMAH. Soalnya, kalo saya milih yang kuat juga, pasti kemungkinan si pilihan kedua itu menang juga naik.
Nah, sayangnya, orang Indonesia nggak menerapkan filosofi yang sama ini waktu memilih yang lemah di pilihan kedua.
Tingkat keakuratan : 35%
Mungkin banget sih. Kadang-kadang orang Indonesia suka merasa jenius tuh, apalagi kalo berhasil menemukan celah buat mengakali satu sistem. Nah, apesnya, ada 10.000 orang jenius tuh di Indonesia ini. Selamat ya.

Teori Ketiga :
"Lo kebayang nggak sih booo? Bokap gue itu sampe bengong depan TV. Si juri Singapur aja bilang, yang punya commercial value itu Phuong Vy! COBA KITA NGIRIM DELON?!?"

Nah. Teori yang-ganteng-pasti-menang itu sebenernya teori lama di ajang kontes-kontesan kayak gini ya. Apalagi mengetahui secara sadar bahwa mayoritas penonton acara ini berjenis kelamin perempuan, dan sebagian besar berstatus ABG.
Jadi, nggak mengejutkan juga sih kalo ternyata pilihan kedua setelah negara sendiri adalah kontestan yang GANTENG. Phuong Vy bisa jadi paling komersil, tapi dia NGGAK GANTENG. Helo? Nah, lebih apesnya lagi, konteks ganteng ini nampaknya sama di pikiran perempuan enam negara. Well. Minimal tiga lah : Singapur, Malay, sama Indonesia.
Itung-itungan babu lagi nih ya : katakan perempuan Indonesia ada 50.000, Malay ada 30.000, Singapur ada 20.000. Cih. Hoki kali Mas-Mas ini.
Tingkat Keakuratan : 40%
Haduh, masih mesti dibahas lagi ya??


Eniwei.
Agak ngenes juga sih menerima nasib kalah di kandang sendiri. Udah gitu dari orang yang tidak dijagokan pula. Apa pun lah sebabnya.
Mungkin ada yang punya teori-teori lain yang lebih bermutu? Hehehehe....

Posted at 10:25 am by marco!
Comments (5)  

Tuesday, December 18, 2007
tertawa [lagi]

CIHUY!!!!!
Sekian lama menanti, akhirnya benda ini diupdate.
Akhirnya bisa tertawa lagi... wakakakakakkkkkkk.

Posted at 01:04 pm by marco!
Comments (2)  

Sunday, December 09, 2007
double job seekers : BE PREPARED

Sebelum saya mulai nulis, sekedar mengupdate sedikit nih buat temen-temen yang begitu penasaran tentang welcoming party si mbak yang saya ceritain di posting sebelumnya.
NGGAK, dia belom dateng.
Puas hidupnya semua? Pokoknya nanti saya kasih tau BERAPA HARI yang dia perlukan sampai akhirnya orang-orang ngomongin dia. Hihihi.



Eniwey. Ijinkan saya membuka posting hari ini dengan permohonan maaf karena absen 15 hari dari kancah perblogan pertiwi. Bukan bermaksud sok sibuk, tapi..emang.
Jadi gini. Ijinkan saya curhat dulu ya, baru mungkin temen-temen bisa ngasih sedikit pencerahan.

DULU NIH, waktu masih di Bandung, saya ngimpi-ngimpi bisa kerja kantoran Senin-Jumat dengan gaji gede. Udah gitu, Sabtu & Minggunya siaran barang 2-4 jam, sekedar buat ngoceh atau denger musik gratis. Sisanya diabisin buat pijet atau belanja.
Seru abis ya ngayalnya? Ya iya lah. Namanya juga anak muda (saahhhhh), baru lulus, berasa staminanya kenceng kayak kuda. Ambisius dot com.

Tapi tolong baca lagi dua kata pertama di paragraf tadi.
Itu semua D-U-L-U.
Sekarang setelah semuanya berhasil dicapai (kecuali poin gaji gede tentunya), kok rasanya beda ya sama bayangan saya dulu? Senin-Jumat kerja kantoran plus never ending meetings buat jualan program-program channel yang menggaji saya ini. Belum termasuk seminar atau workshop yang statusnya MANDATORY dan invitationnya dikirim dengan sedikit embel-embel 'i-will-not-accept-any-reason-not to-participate'.
Itu yang di atas kertas selesainya 5.30 PM tiap Senin-Jumat.

Nah. Di luar rutinitas Senin-Jumat itu, (Desember ini) saya dapet jatah slot 32 jam buat jadi pelacur mikrofon. Menyenangkan sih, secara ya itu tadi. Saya bisa menggauli musik gratis. Tapi, sekaligus meluruskan fantasi orang tentang kerjaan penyiar nih ya, kerjaan ini nggak gampang lho. Nggak semata-mata nganga depan mikrofon.
Well at least di radio saya ini, nganga tanpa isi itu diharamkan ya. Jadilah saya mengisi waktu-waktu kosong dengan menggauli informasi untuk diomongin dalam 32 jam itu.


Haduh haduh. Kalo gini terus, kapan bisa punya pacar ya?

Eh, sebelum ada yang komplain saya nggak mensyukuri apa yang saya dapet, disclaimer dulu nih. Ini BUKAN ngeluh. Cuman berbagi sedikit cerita aja, bahwa dobel job itu capek lho.
Menyenangkan sih. Apalagi tiap tanggal 25 pas ngeliat jumlah nominal di ATM. 
Tapi satu hal simpel yang saya lupa DULU, adalah effort untuk menikmati kesenangan itu juga akhirnya dobel. So unless you're WELL-PREPARED, you'll end up doubling the stress yourself.


Iya nggak sih?
Ada yang mau colongan curhat dobel job juga di sini? Monggo lho..

Posted at 09:32 pm by marco!
Comments (7)  

Thursday, November 22, 2007
do people change, or they just adapt?


Ada hal buruk yang menghantui hidup saya dari kemaren.
Bentuknya tidak dalam wujud suster yang gelorotan di lantai atau neneng-neneng berpunggung bolong, tapi justru seorang gadis biasa yang notabene adalah mantan rekan kerja di kantor lama. Masalahnya cuman satu. Nggak ada yang bisa kerja sama dia, dan Desember nanti dia resmi terdaftar di kantor saya.

Poin gawat bertambah melihat adanya kemungkinan saya harus bekerja sama dia.
Sial.

Sekarang saya lagi menghitung hari menyongsong Desember.
Untuk mengisi hari-hari bahagia terakhir ini, saya pun mengambil inisiatif untuk mengucapkan selamat ke temen-temen saya yang mau-tidak-mau harus bekerja sama di tim yang sama dengan dia. Efek yang ditimbulkan cukup dahsyat sih, secara saya tidak bisa tidak menceritakannya dengan sedikit bumbu penyedap.
Tapi bukan berarti saya melakukan pencemaran nama baik ya. Catat.
Lha wong namanya pada dasarnya sudah tidak baik kok. Saya kan hanya menyempurnakan. Hakhakhak.

Anyway. Kondisi geger [bukan nama band] kantor ini sempet bikin saya jadi terlihat sebagai orang paling jahat sedunia; terutama bagi mereka yang memang belum merasakan asoynya bekerja sama dengan gadis ini. Salah satu kalimat unggulan yang sering dilempar ke saya adalah : 'Udahlah Co, people change.'

Which leads me to one of the serious question I've ever asked in the history of blog-writing : MASA SIH?
Sampai saat ini sih saya masih berpegang pada prinsip : people don't change, they just adapt. Jadi mau kayak gimana pun, orang tidak akan berubah. Kalaupun terlihat seperti berubah, itu karena mereka beradaptasi dengan lingkungannya. Di luar itu, ya tetep begitu adanya. Termasuk si gadis yang lagi saya bicarain ini dengan work ethic-nya.

Nah nah.
Coba deh bantu temennya sedikit disini.
Mungkin ada argumen lain soal filosofi 'people do change' VS 'people just adapt' ini.
Nggak perlu ngeri berargumen sama saya kok. Saya nggak akan otomatis memvonis kalian air head seperti layaknya gadis ini. Hehehehehehehe.


Saudari Miund barangkali, yang juga pernah menikmati bekerja bersama gadis ini?
Saya tau kamu gatal di ujung sana. Hakhakhak.

Posted at 11:54 pm by marco!
Comments (8)  

Wednesday, November 21, 2007
sindrom dangdut

Gawat nih.
Saya lagi mengidap sebuah sindrom yang menakutkan.
Gejalanya cukup aneh.

Diawali dengan meningkatnya inisiatif memilih lagu-lagu berikut dari iPod, untuk diputar sambil menemani mengutuk Sutiyoso yang membuat Jakarta Macet.
      
Firasat.
      Satu Bintang di Langit Kelam
      Oh Well
      
Cinta Sendiri
      6-8-12
      Sempat Melayani Hatimu.
Perhatikan baik-baik penggunaan kata inisiatif dalam kalimat sebelumnya.

Kedua.
Mulai mempertanyakan kualitas penglihatan, merujuk pada timbulnya fenomena melihat banyak sekali orang di wilayah kantor yang berwajah mirip dengan DIA, yang sukses membuat saya melakukan posting-posting dangdut di
sana sini..
Lebih gawat lagi, di antara banyak sekali orang itu, ada satu yang [menurut saya] sangat mirip; dan nggak tau kenapa beberapa hari belakangan ini selalu papasan di kantin.

DAN,

Terakhir, menuliskan semua ini di blog.


Gawat.
Gawat. Gawat.
Gawat. Gawat. Gawat.
Semua ini sudah menjadi sangat DANGDUT..

Posted at 01:27 pm by marco!
Comments (2)  

Tuesday, November 13, 2007
tentang menyilet

Ehem. Nampaknya ada yang perlu diklarifikasi disini.

Seiring dengan mendulangnya popularitas blog ini, cukup banyak input yang memotivasi saya untuk meningkatkan kapabilitas menyilet seperti si pemilik-pemilik blog bersangkutan.
Nah nah. Makanya saya merasa perlu untuk bertanya sedikit di sini : emangnya saya silet ya? Masa sih? Sedikit kasar dan sadis sih mungkin, tapi rasanya yang layak mendapatkan gelar ketoprak karet lima itu kan si Mbak bermuka mirip Indy Barends ini.
Ya kan? Ya kan? Ya kan?


Jadi, mari kita samakan persepsi mulai hari ini. Hehehe.

Posted at 01:53 pm by marco!
Comments (2)  

Tuesday, November 06, 2007
film-film berdampak mengerikan di Indonesia

Beberapa hari lalu saya terdampar di depan TV menonton lagi film ini, yang sebenernya udah berjuta-juta kali juga ditayangin di televisi. Saya jadi inget. Dulu film ini lacur berat ya.
Kalo dipikir-pikir, sebenernya nggak banyak film-film yang suksesnya senajis itu di Indonesia. Yang saya maksud sukses najis di sini adalah, efeknya kemana-mana begitu mengerikan. Coba kita liat satu-satu ya.

SPEED
Mulai dari film ini dulu. 
Menurut saya, ceritanya sih BIASA BANGET ya. Polisi nyelametin penumpang satu bus yang ada bom..endebra..endebre. Tapi kenapa ya, efek sesudahnya kelewat dahsyat?? Selain semua perempuan mendadak mendaftar di Keanu Reeves Fans Club, entah kenapa POTONGAN RAMBUTNYA PUN JADI TREND. Padahal yaaa, potongan rambut kayak gitu sebenernya udah lama lhoooo adanya. Cuman karena kebetulan aja nempel di orang ganteng, terus mendadak merasa bisa ikutan ganteng dengan potong rambut kayak gitu? Helo?

Lebih mengerikannya lagi, judul film ini pun jadi nama jenis potongan rambut di beberapa tukang pangkas. Saya inget banget dialog ini pernah terjadi di tukang cukur deket rumah :
               
Tukang cukur : "Mau cukur model apa Mas?"
                    Si Mas : "Anu, model Spit Mas."
...
Kalo saya sih merasa cukup bangga untuk menyatakan nggak terpengaruh trend ini, mengingat jidat saya yang porsinya memenuhi 3/4 wajah. Jadi waktu itu saya tetap menganut aliran konservatif dengan mempertahankan potongan belah tengah.
Ngomong-ngomong soal potongan rambut ya, film berikutnya yang menurut saya nggak kalah monumental adalaaaah :

GHOST
Wahai para gadis 80-an, jangan berasa nggak pernah mengidap sindrom trend serupa.
Masih inget film spektakuler ini?

Coba. Siapa yang berhasil melewati akhir tahun 80-an TANPA mengalami fenomena rambut kayak Demi Moore? NGACUUUNGGGG!!! (Nyaris) nggak ada kan? Lupa, hmmm?
Itu lhooo, yang niatnya cepak bondol tapi poni depannya gondrong. AAARGGGGHHH!!!
Emang agak males sih ngingetnya. Masih juga pura-pura lupa? Hwaaahahaha! Tenang. Situ nggak sendiri. Barusan saya survey kecil-kecilan di departemen kantor, dan ternyata mbak-mbak yang sangat cuek sekali pun mengaku PERNAH melalui masa-masa kelam ini.
Yang lebih mengerikan, pengikut trend ini kemudian mendapat label khusus : KDM alias KORBAN DEMI MOORE. Yah bo. Untung aja Conny Dio muncul beberapa saat sesudah film ini tenar. Dia kan tipe rambutnya kan mirip-mirip juga tuh. Coba kalo dia yang muncul duluan. Hmmmmmphhhh.

TITANIC
Emang sih, nggak ada potongan rambut bombastis lahir gara-gara film ini.
Tapi gini deh. Menonton film ini maksimal dua kali rasanya CUKUP ya. Kalo ternyata nontonnya sampe tujuh kali dan selalu mewek setiap Mas Leo kelelep, rasanya kok agak keterlaluan ya? 

Lebih mengerikan lagi, soundtrack film ini TERLALU POPULER.
Kebayang ya, saking lacurnya, sampai lagu ini dibikin versi remix koplo buat mengiringi gerakan-gerakan kayang pas senam SKJ. Ahh, kasian sekali Tante Celine.

AADC
Satu lagi yang nggak kalah fenomenal.
Emang sih abis itu nggak ada potongan rambut ala Rangga atau Cinta. Soundtracknya pun nggak jadi disko koplo.

Tapi kenapa ya, waktu film ini rilis, mendadak banyak laki-laki jadi DOYAN BIKIN PUISI?!? Atau minimal berusaha belajar bikin puisi dengan hunting buku Sjumandjaja yang dibawa Rangga kemana-mana. Helo?
Taufik Ismail masih hidup lho, and he still needs to earn his living.

METEOR GARDEN
Ini sih sebenernya bukan film ya. Tapi saya rasa efeknya JAUH lebih mengerikan dibandingkan film-film yang saya sebut sebelumnya.

Aduh. Gimana mulainya ya? Buat saya film ini malapetaka berat untuk standar trend di Indonesia. Dan terjadinya justru sama kaum lelaki.
Nggak perlu malu kok buat ngacung, wahai para pria yang sempet menyatroni salon terdekat buat BONDING RAMBUT. Atau menambah ekstention di bagian depan supaya poninya bisa dilempar.
DAN, yang lebih fantastis, di masa-masa itu agenda cuci-mata-sore saya jadi ternoda karena terpaksa melihat pria-pria yang mantap berkaos KUTUNG dalam segala acara. Aduh. Mendadak pusing. Ya Allah, terima kasih sudah memberikan saya jidat yang lebar, sehingga saya nggak tergoda buat BONDING. Amin.

...
Ada lagi nggak ya?
Cuman segini nih film yang kepikiran sama saya.
Tapi mudah-mudahan cukup saksess membawa temen-temen semua ke memori-memori kelabu masa silam. Selamat mengenang masa silam! Wakakakakkk!!

Posted at 11:27 pm by marco!
Comments (14)  

Sunday, November 04, 2007
sepenggal tips menonton konser

Saya sebenernya termasuk orang yang pilih-pilih dalam hal nonton konser.
Jadi, kalau kemaren saya memutuskan untuk ngorek-ngorek sisa THR buat beli tiket festival konser 
Mbak B yang lumayan absurd harganya, itu berarti ekspektasi saya cukup tinggi.
Sampai akhirnya saya melihat denah tempat duduk berdasarkan kasta yang dirilis promotor di situs resminya :

 

Well.
Kalau penasaran sama hasilnya, review generalnya udah saya post di
sini; silahkan dilihat karena saya nggak akan ulang disini. Untuk disini, rasanya lebih passss kalau saya jembreng 10 tips menonton konser yang posisi festivalnya ditempatkan dengan 'cerdas' seperti ini.

10. Persiapkan kipas angin mini atau kipas manual bekas souvenir kawinan.
Trust me, you'll be needing that; terutama kalau antriannya diposisikan di lantai delapan sebuah GEDUNG PARKIR yang sistem ventilasinya seadanya.

9. Turunkan sedikit gengsi dan harga diri, untuk menyapa SEMUA orang yang dikenal.
I repeat, SEMUA. Termasuk orang-orang yang mungkin selama ini amat sangat dihindari. Penting banget bos, terutama kalo wajah-wajah yang kita kenal ini ada di lini depan antrian, atau malah di kasta berbeda, dengan harapan mereka punya tiket lebih untuk disumbangkan pada kaum dhuafa seperti kita.
Atau, kalau lebih nekat lagi :

8. Berkenalanlah dengan panitia setempat, dan nikmatilah fleksibilitas ID CARD.
Syukur-syukur dapet yang ALL ACCESS, yang memungkinkan kita untuk melakukan apa pun termasuk koprol & kayang di bibir panggung. Sedikit tips tambahan agar trik ini berhasil : pastikan saat itu Anda dalam kondisi (baca : penampilan) PANTAS untuk diterima sebagai kenalan dadakan.

7. Berdandanlah maksimal.
Sadarilah kenyataan pahit yang mengatakan bahwa kita bukan artis. Jadi, perlu sedikit usaha ekstra untuk dilirik orang. Tapi nggak usah berpikir kelewat ekstrim. Satu-satunya cara adalah berdandan maksimal. Terbukti, seorang waria bergaun malam silver dengan wig afro sukses menarik perhatian tim SILET. Well, she (or he?) set the bar. Kalau mau bernasib serupa, jangan pernah lupa bawa perlengkapan lenongnya. Minimal pupur lah.

6. Sempatkan diri fitness untuk membentuk otot lengan. 
Kalo yang ini bukan untuk sombong kalau pake tanktop atau kutung-kutung sejenis; tapi khusus buat MEMANJAT pagar festival untuk dapet posisi yang lebih 'mendingan' dibandingkan kaum festival lainnya. Bisa juga dipakai untuk menyingkirkan saingan-saingan pemanjat pagar lain.

5. Belajar bahasa Inggris.
Selain penting untuk tampak eksis di lagu-lagu si artis, skill ini diperlukan untuk memaki bule jangkung yang cukup nyaman berada di lini depan festival.

4. Lupakan tepa selira & tenggang rasa.
Bukan saatnya mengamalkan pelajaran PMP di acara kayak gini. Sikut menyikut dan tatapan nanar justru lebih sah di saat-saat seperti ini. Jadi, bersiaplah untuk keji pada mereka yang berusaha untuk menggusur posisi terbaik kita.

3. Pastikan masih memiliki nomer telepon tukang urut andalan.
PENTING! Hampir bisa dipastikan kita akan menderita kejang dan ngilu di sekitar leher dan betis. Ditambah bonus nyeri sekitar tumit bagi perempuan yang mengamalkan poin #7 dengan menggunakan hak lebih dari 7senti.

2. Upgrade tiket!
Apalagi begitu tau kalau lokasi konser akan diadakan di sebuah tempat yang tidak sistem tribun tapi lebih menyerupai sebuah hanggar pesawat di wilayah Mangga Dua. Agak sedikit nyesek di hati sih, karena mungkin Anda harus rela mengisi waktu makan siang selama satu bulan sesudahnya dengan bekal dari rumah.
Kalaupun kondisi finansial tetep nggak memungkinkan,

1. Berjanjilah pada diri sendiri untuk TIDAK MENGULANGI KESALAHAN SERUPA, dengan memilih konser yang diadakan promotor yang sama.
Sutra lah. Ketauan banget pengen nyari untung gede dengan memilih hanggar pesawat sebagai sebuah venue konser. NGGAK MUNGKIN BANGET ini wish list dari si artis. Jadi, daripada leher kram, betis membesar, dan minus mata nambah, kalo punya duit mending cari aman dengan nonton di negara tetangga.


Hmm.
Jadi kepikiran. Target konser berikutnya kan si
mas ini ya.
Promotornya siapa ya??? Ada yang punya bocoran mutakhir?

Posted at 11:21 pm by marco!
Make a comment  

Wednesday, October 31, 2007
buah semangka berdaun sirih

Satu tempat yang saya agak hindari adalah dokter atau rumah sakit.
Bukan karena saya takut ya. I just don't like the idea that claimed this place as "the best place to cure illness"; while in reality, this place is very much full of bacterias. Jadi sebisa mungkin saya meminimalisasi interaksi dengan rumah sakit. Atau dokter. 
KECUALI emang sakitnya udah melewati ambang batas toleransi, yang biasanya ditandai dengan perasaan melihat cahaya surga dan timbul hasrat mengaku dosa.
...
Oh well, got the point rite?
Intinya adalah, kalau hari Kamis lalu saya memutuskan untuk pergi ke dokter gigi, artinya sakitnya ini udah lebih dari sakit hati (alagh..). JADI, saya pun berangkat meskipun hanya berbekal sedikit memori soal dokter gigi. Maklum, rasanya terakhir ke dokter gigi SD. Mungkin kedengerannya sedikit jorok ya. Tapi enggak kok, sumpah.
Saya masih cukup intim dengan benda bernama sikat gigi.

ANYWAY.
Ketimbang rumah sakit, saya memilih untuk ke dokter gigi deket rumah, yang juga adalah dokter gigi terakhir yang pernah menggerayangi rongga mulut saya. Kebayang kan, dia udah praktek dari jaman saya SD. LIMA BELASAN TAHUN AJA GITU. Dan masih praktek.
Gokil.

Kekaguman saya nggak selesai di situ.
Satu, pak dokter saya ini ternyata punya TIGA SUSTER. TIGA, saudara-saudara. Satu buat menahan mulut pasien. Satu lagi jadi perpanjangan tangan pak dokter dalam mengoperkan barang-barang keperluan gigi PLUS garuk-garuk kepala pak dokter kalau lagi gatel. Satu lagi ternyata adalah CADANGAN, saudara-saudara, kalau suster yang lain lagi ijin sholat.
Sinting. Saya kira cuman pemain bola doang yang ada cadangan.

Dua, pak dokter ini menyediakan hiburan dalam ruang prakteknya.
Lumayan? Belum tentu.. karena nampaknya hiburan ini diperuntukkan buat dia. Atau setidaknya orang-orang seumur dia. Jadi, bisa dibayangkan. Kunjungan saya kali itu disambut oleh SATU ALBUM KARAOKE BROERY PESULIMA.
DAN, jumlah televisinya tidak satu, tapi DUA. DUA! Satu persis di DEPAN muka saya (yang artinya dalam jangkauan penglihatan pak dokter kalo dia lagi nengok kanan), dan yang satu lagi di BELAKANG saya (untuk tengokan kiri).

So, there I was; duduk pasrah MENGANGA di kursi yang mungkin juga adalah kursi yang saya dudukin 15 tahun lalu. Satu suster di kiri mempertahankan saya berada dalam pose terburuk dalam sejarah 27 tahun saya hidup.

Pak Dokter : Wah ini lobangnya gede banget ini, mesti DELAPAN KALI BOLAK BALIK.
Saya : HWAA? DWELAPWAN-KWALI DWOK?
     ..tapi lihatlaaaaaaaah apa yaaang terjadiiiii, buah semangkaaaa beeeerdaun siriiiiiihhh...
Pak Dokter : Soanya nggak bisa sekali tutup, mesti diobatin dulu. Ya udah, sekarang dibersihin dulu. Biar nggak sakit, DISUNTIK YA?
     ...aku beginiiiii, engkaaau begituuu... sama sajaaaaaaaaa...

Bos. Gini ya. Saya nggak takut sama jarum suntik sih.
Tapi kok menurut saya, rasanya bagian tubuh yang layak ditancep jarum itu cuman tangan atau pantat ya? Nah. Ditanya seperti itu, dalam kondisi mulut lagi dalam kawalan ketat si suster, mungkin nggak saya menjawab ENGGAK?

Saya : SWAKIWT GWAK YAW DWOK? [harus diakui, pertanyaan goblok]
Pak Dokter : Yaaa sedikit lah. Boong itu kalo ada yang bilang suntik nggak sakit.

OH. MAKASIH YA ATAS SEMANGATNYA!
Tapi, belum sempet ngeluh, dua tembakan udah bersarang di gusi dan pipi bagian dalem. Nggak berapa lama, setelah mulai merasakan efek pipi ditonjok traktor, saya pun dipanggil lagi untuk pemerkosaan tahap kedua.
DZIIIIIIIIIIINGGGGGGGG... Rasanya benda bernama bor itu mulai bunyi.

Pak Dokter : Kalau sakit, nanti tangannya ngacung ya?
[...HELL?!
NGACUNG MY A**!]
DZIIIIIIIIIIIIINGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG.....
     ...air matakuuuuu dan air matamuuuuu...apalaaah gunanyaaaaaaaaaaaaaa?
Saya : A-A-A-AAAAW! [tentu tanpa maksud menambah echo Om Broery]
Pak Dokter : Sabar ya, sebentar, sedikit lagi ini.
     ...aku begiiniiii, engkaaaau begituuuuuuuuuuuuuu
DDDZZZZZZZZZZZZZZIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGGGGGGGGGG...
Saya : A-A-AAAA-AAAWWW!!!
Pak Dokter : Sakit ya? Iya ini lagi diobatin.
     ...sama sajaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....
DZZZZINGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG....
Pak Dokter : Nah, udah, kumur sana.

...
Kurang lebih setengah jam lah Om Broery puas melantunkan satu album PENUH buat saya. Untungnya pak dokter nggak berinisiatif untuk ikut bernyanyi bersama ya. Saya belum bisa bayangin TUJUH kunjungan berikutnya akan ditemani oleh penyanyi mana lagi. Tapi yang jelas, menutup sesi reuni saya dengan Pak Dokter ini, tambah kekaguman terakhir yang memukau hati : sistem pembayaran seperti cicilan panci, atau dengan kata lain, kalau duitnya kurang bisa nyusul di pertemuan berikutnya.
Hehehe.

Posted at 08:25 pm by marco!
Comments (8)  

Previous Page Next Page