marco!
March 13th
Male
Jakarta


Marco Anjasmoro
Started with one Western name,
ended with a Javanese one,
in a complete oriental package.
Don't ask.


Loves :
evening chat in a chill lounge,
a pack of cigarette over coffee,
lazy Sundays on comfy bed,
clubs on Fridays or Saturdays,
blogs,
reality TVs,
midnight snacks,
movies on Mondays,
torn up jeans+sneakers,
my iTunes playlist,
Katherine McPhee



   

<< May 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31



Days that are over will not continue to last,
if you try to construct the past..

[Sondre Lerche]

GoStats web counter
GoStats web counter


www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from marcopunya. Make your own badge here.





Personal Files

Friendster
Multiply
Previous Blog


Buddies' Blogs

Miund
Indra Febriansyah
Buhpi
Neng Manik
Saphira
Sacha
Meinyana
Pandji
Neng Lita
Baba Jessy
Odeledo
Dhank Ari
Barrie
Sekar
Anantya


Blog-Buddies

Cha
Marzland
Dody
Nien
Tyka
Sandy


Next Agenda

Java Jazz Festival 2008
Jakarta Convention Center
March 7-9, 2008




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, May 28, 2007
masalah hobi

Ada pelajaran PENTING yang saya dapet hari minggu ini.

Jadi duduk perkaranya kurang lebih begini bos.
Hari Minggu biasanya menjadi MOMOK buat seorang Marco. Soalnya, biasanya saya harus menemukan alasan logis buat menghindari ritual ke gereja. 
Tapi, berhubung hari Minggu kemarin ini Bunda tercinta ulang tahun, jadilah satu keluarga sakinah ini duduk manis di barisan terdepan di balkon. Posisi paling asoy untuk melihat dan dilihat orang.


"Persembahan puji-pujian dari paduan suara lansia."


AAAAAAAAAAAAAAAAAWWWH..
Layaknya manusia normal berperasaan lainnya, efek spontan yang muncul adalah terharu. Saya melirik ke bawah. Segerombolan oma-opa sibuk kasak-kusuk ambil posisi berdasarkan pembagian suara. Beberapa udah berambut putih, tapi ada juga yang keliatannya masih belum terima kodrat penambahan umurnya.

Berasa sukses ambil nada, oma konduktor pun mulai memimpin.
Lagu pun dibuka dengan begitu ciamik oleh kelompok oma. Sampai akhirnya di bagian Reff, giliran opa-opa yang unjuk penampilan. Pembagian suara yang SEHARUSNYA sempurna.
Kenapa SEHARUSNYA?
Karena di bagian Reff itu lah kuping saya tiba-tiba komplain. Ada yang SALAH.

"Aduh. FALS."

Nah itu.
Agak sedikit jengkel sebenernya karena keSALAHan ini keduluan diterjemahkan secara verbal oleh si Bunda. Rupanya absennya saya sebagai precaster di ajang pencarian bakat tahun ini membuat level toleransi kuping saya agak sedikit naik.

Tapi saya tau ada yang SALAH (halah, nggak mau kalah).
Makanya saya balik lagi dengerin aksi oma-opa ini. Kali ini dengan setelan konsentrasi lebih tinggi. Sampai di bagian Reff lagi, dosa itu kedengeran lagi.
Kali ini beberapa desibel lebih kenceng. Mungkin karena opa-opa ini merasa eksistensi suaranya ditelan kelompok oma.

Nggak tahan, saya pun memaksa si Bunda untuk BERGUNJING. 
Sebuah aktivitas yang sebenernya halal, tapi hukumnya DOSA kalau dilakukan di tempat suci seperti gereja.

Saya : "Siapa sih biang keroknya?"
Bunda : "Yang opa-opa."
Saya : "Iya tau, tapi OPA-OPANYA KAN ADA 6. Yang mana??"
Bunda : "Kayaknya yang kumisan." 


GILAAAAAAAAAAAAAA..
Baru saya sadar kalau kemampuan mendeteksi fals ini adalah sebuah bakat turunan. Bedanya, kalau si bunda menggunakannya dalam kapasitas menuduh, saya mengejawantahkannya ke aktivitas yang lebih mulia : menelurkan Mike, Monita, Dirly, Ilham, dan kroco-kroconya.
Kalau dipikir-pikir, cukup membanggakan. HAKHAKHAK!


Eh. Balik ke si opa kumis tadi.
Setelah divonis biang kerok si bunda, saya mengunci target pandangan saya ke dia. Nggak merasa diliatin, si opa dengan konsentrasi penuh dan keyakinan tinggi membuka mulutnya lebar-lebar mengikuti teks yang dia baca.
Sampailah saya pada satu kesimpulan memilukan : DIA NGGAK SADAR KALAU FALS.

HEH, jangan ketawa! Ini MENGHARUKAN lho!
Barangkali yang penting buat dia adalah bagaimana dia mengisi hari-harinya dengan satu aktivitas bermanfaat : menyanyi untuk Tuhan. Nah sayangnya nih, mungkin saking semangatnya, dia LUPA kapasitasnya sebagai aki-aki. Mungkin dia lupa di pelajaran IPA dulu pernah dituturkan bahwa semakin tua seseorang, semakin berkurang ketajaman pendengarannya -yang notabene berpengaruh juga pada kesuksesan memilih nada yang sama dengan aki-aki sekitarnya.

Kalau dipikir-pikir, ini BERBAHAYA lho. BERBAHAYA.
Ini bisa menimbulkan keresahan tak beralasan di aki-aki maupun oma-oma lainnya, dimana mereka akan BINGUNG menentukan mana nada yang benar. Dan kalau ini terjadi. Haduh.

Nah. 
Mungkin mulai dari sekarang kita sisihkan waktu sejenak untuk mencamkan hal mendasar berikut ini dalam lubuk nurani masing-masing : hobi itu ada rentang umurnya, jadi mulai dari sekarang, pintar-pintarlah memilih hobi sesuai kapasitas.
Ada alesannya Barbie dimainkan anak-anak perempuan berumur kurang dari 12 tahun.
Ada juga alesannya kenapa aeromodeling hanya dilakukan laki-laki dewasa.
Dan tentu ada alesannya kenapa lansia sebaiknya mengisi waktu dengan merajut atau berkebun, instead of menyanyi.

Posted at 09:50 am by marco!
Comments (5)  

Thursday, May 24, 2007
lagi, aib berbahasa

Ternyata aktivitas blogwalking itu agak berbahaya buat saya.
Secara saya gampang terganggu ya, dengan kesalahan tata bahasa, disengaja ataupun enggak. Abis keliling ke beberapa blog, ternyata saya berhasil mengumpulkan beberapa kata 'baru' yang statusnya tercela buat saya.

'AQ'
Secara alfabetikal, A dibaca A, Q dibaca kyu, atau ki kalo lagi sedikit borjuis dan kebarat-baratan. Nah logikanya sih, kalo disatuin, mestinya bacanya a-kyu atau a-ki. Jadi, tolong bantu jelaskan, dari mana sejarahnya AQ akhirnya bisa = aku
Pengecualian pertama, adalah kalau ini dipake di SMS, dengan alesan ngirit.
Pengecualian kedua, Anda adalah gadis ABG lucu yang sedikit imut, sehingga saya bisa memaksakan diri saya buat membaca AQ dengan 'akyu'.
Tapi kalau Anda ada di luar -sekali lagi di luar- kedua pengecualian itu, coba pikir-pikir lagi.

'DY'
Nah, ini lagi. Dua huruf mati dijadiin satu. Mentok-mentok bacanya : di. 
Nanya aja nih, kira-kira bisa = dia, gimana ceritanya ya?
Buat dosa yang satu ini saya agak tegas. Nggak ada pengecualian, bahkan jika Anda mengklaim diri sebagai ABG lucu dan sedikit imut.

'EN'
Maksud penulisnya sih dibacanya = dan.
Mungkin niatnya biar dilabeli sedikit borjuis, karena bacanya kan rada-rada barat gitu ya : én. Beda-beda tipis lah sama 'and'.
Tapi gini ya.
Ngeliat 'dan' ini disingkat jadi 'N' aja saya udah agak eneg ya, apalagi kalau ditambah E di depannya. Kenapa ya nggak mau repot sedikit, nulis 'dan' atau ganti jadi karakter '&' sekalian?


Iya, saya tau itu selera penulisan.
Jadi ya maaf-maaf aja nih, kalau ada yang keberatan sama gonggongan saya di sini. Tapi mbok ya sedikit membuat JS Badudu bahagia gitu lho. Biarkanlah beliau menikmati masa tuanya dengan tenang..


..umm.. masih hidup kan ya?

Posted at 11:05 am by marco!
Comments (13)  

Wednesday, May 23, 2007
tips merusak seorang saya

Oh well.
Ternyata nggak susah buat merusak hati seorang Pisces. Saya, tepatnya.
Cukup dengan satu posting bulletin board di tengah hari yang super sibuk.
JEDAR! Selesai.

Dan, yang bisa melakukan itu semua tentunya cuma oknum yang saya maksud di posting
ini. Crap. Coba kita lihat sedikit apa yang dibikin sama monyet ini.


Date: Tuesday, 22 May, 2007 9:39 PM
Subject: Sebesar apa arti dia buat gw?????hwahahaha...kepedean nih gw kayaknya!!
Message:

Seberapa besar arti DIA buat kamu?
1. Ada berapa jumlah keluarganya?
* kalo ga salah sih 4 yah..??
[Yep, wrong number 1]

2. Dia anak ke?
* 4

[Now that's definitely NOT me]


...
Let's skip some of the Qs and go directly to the part where reality bites.
Sorry. 'bites' will not be the correct term. Prefer 'SLAPS'; it has some of that pity effect.


11. Kapan sih hari ulang tahun dia?
* hari nya bganti2 lah,yg pasti mah bulannya januari lah,taunnya weits jgn tanyaa,ptama kali honda jazz keluar aja di indo hahahhahahah brondong abessh pan kesannya tuu hahhaha.
[There you go. Two wrongs definitely don't make a right. First of all, I wasn't born in January. Secondly, saya BUKAN brondong.]

15. Kamu pilih dia karena cakep/baik/kaya/pinter (pilih satu yang paling dominan)?
* mmhh karna dia sayang ama gw (katanya) hehe itu yg paling dominan gw rasa =D

20. Nama dia adalah?
* yee ko ujungnya bgeneeh hahahhaha ada dweeh =P panggil dia Bun-bun aja deeh... irresistable Bun-bun!



...
Saya cuman bisa diem.
Mendadak merasa kosong.
Terus tiba-tiba muncul rasa ngilu di dada.
Sakit.
Buat yang merasa pernah sakit hati, coba bantu menjelaskan ke saya, INI yang disebut sakit hati? Kalo iya, berarti baru orang ini yang bener-bener bikin saya sakit hati.
I mean, what's the point of announcing these to the whole world, while on THIS side of the world, HERE, I had been waiting to work things out?!?



Mungkin dia sengaja.
Mungkin dia memang berharap saya baca ini semua.


...

Sialan.
Jadi curhat colongan. Padahal saya paling anti baca curhatan orang di blog.
And now you hafta get it from me. Maaf ya teman-teman. Let's wrap this fast then.
Satu kata baru bisa keluar setelah sempet mendadak merasa gagu.

"Tega."

Posted at 07:54 pm by marco!
Comments (8)  

Tuesday, May 22, 2007
"..coba cek dulu di BAMBANG."

Tadi pagi temen saya memberikan ide paling brilian yang pernah saya denger.
Ceritanya kurang lebih begini. 
Hari ini kebetulan saya mesti nyari nomer kontak dari om atau tante yang kerja di Dinas Perhubungan Jakarta. Korek kiri-kanan, nggak ada hasilnya. Kalau dipikir-pikir, buat apa juga mereka nyimpen nomer kontak om dan tante ini.
Mungkin karena kasian ngeliat saya putus asa, salah satu temen dari bilik sebelah, gadis YUN, mendatangi saya membawa satu bundel tebel kertas.

GABRUK.
Gadis YUN : "Nih, cari sendiri aja disini ya." 
Saya ngeliat lagi bundelan depan saya. Ternyata isinya adalah daftar nama om dan tante penting di negara ini. Sekilas sih lengkap. Kekurangannya cuman satu : disusun berdasarkan alfabetikal nama.
Saya : "Neng, gimana juga nyarinya? Masa gue cariin satu-satu siapa yang kerja di Dinas Perhubungan??"

Dan saat itulah, gadis YUN membuat empat terobosan dahsyat abad ini, lewat tips paling cerdas yang pernah saya denger dari dia.
Gadis YUN : "Gini Co. Pertama, lo kira-kira nama orang yang lo cari itu siapa. Nah, lo nyari orang pemerintahan kan? Coba cek dulu di BAMBANG, terus lo cari deh, ada nggak Bambang yang kerja di tempat yang lo cari."

BWHAHAHAKHAKHAKHAHKAKAKAKKK!
Satu, buat dia BAMBANG itu = nama pasaran pegawai negeri.

Gadis YUN : "Nah, kalo nggak ada, lo coba cari di RUDI. Banyak banget kan tuh, lo cari deh disitu."

Dua, tambahkan RUDI dalam list nomer satu tadi.

Gadis YUN : "Pokoknya kalo nggak itu, lo cari di A juga. Pokoknya nggak mungkin huruf C. C itu biasanya umur 39 ke bawah."

HWAHWHHAHAAKKAHKAHKAKAHKAHAKHAKKKK!!!!
Tiga. Masukkan sedikit analisa ilmiah dalam tips ini.

Gadis YUN : "Bo itu berdasarkan hasil riset, percaya aja deh."
Terakhir, yakinlah apa yang Anda yakini itu benar. BWHAHAAHAHAHAHAHHAAA!

Posted at 10:31 am by marco!
Comments (5)  

Thursday, May 17, 2007
tentang etika menawar

Hari libur kali ini, rumah saya agak sedikit rame.
Kalo biasanya isinya cukup empat manusia, hari ini dapet tambahan EMPAT TUKANG; dua lagi benerin pintu kamar mandi, dua lagi diimpor khusus buat benerin AC. 
Nah. Motivasi nulis muncul waktu nggak sengaja saya nguping pembicaraan bunda tercinta dengan salah satu tukang AC.

Si Mas : 'Bu, AC-nya mesti dibongkar. Komponennya ada yang rusak, mesti diganti.'
Bunda : 'Oh. Trus biayanya brapa?'
Si Mas : 'Harga komponennya SEGINI, trus ongkos bongkarnya SEGITU, jadinya SEGANA.', dengan nilai SEGANA di atas 100 ribu.
Bunda : 'Aduh, kok mahal banget. 100 aja ya?'

DITAWAR LHO!?
Jasa membongkar AC yang dipanggil ke rumah itu ditawar lho sama dia.

Si Mas : 'Aduh Bu, soalnya ina inu ina inu.'
Si Mas mengeluarkan jurus ngeles teknis yang biasanya nggak dingerti perempuan. Sayangnya dia lupa kalo lagi berhadapan dengan IBU-IBU, yang tentunya nggak pernah peduli dengan alesan musuh yang dihadapi; yang penting harga yang dia mau tercapai.
Bunda : 'Kurangin dong Mas, saya benerin AC-nya dua lho.'
Si Mas yang mulai keki, keliatannya mulai mengeluarkan senyum memelas.
Si Mas : 'Nggak bisa Bu, soalnya yang ini mesti dibongkar.'
Bunda : 'Tapi kurangin dikit dooong!!' Tetep.
Si Mas : 'Segitu juga udah murah banget Bu.'
Bunda : 'Ya udah, tapi BENEERRR ya Mas, saya percaya lho. BENER YA. BENERRR YA.'

Hiihhhhh. Dari awal saya udah tau kalo pemenangnya akan tetep si tukang.
YA IYA LAH.
Ini JASA lho, bukan tukang sayur atau tukang kain di Pasar Baru. Yang kayak gini ini nih yang saya suka nggak ngerti dari perempuan. DOYAN BANGET NAWAR. Meskipun nilai berkurangnya nggak seberapa, tapi KEPUASAN itu yang kayaknya nggak ada duanya. Mungkin buat mereka sensasinya cuman bisa dikalahin sama orgasme. 

Tapi abis itu saya mikir lagi.
Isu tawar-menawar akut ini sebenernya cuman penyakit perempuan, atau juga penyakit turunan ya? Saya mendadak inget salah satu Om saya, yang nggak lain adalah sepupu bunda. Wuih. Catatan kriminal tawar menawarnya lebih panjang dari ibu saya.
Prinsip dasar yang selalu dijunjung tinggi sebelum terjun ke medan perang adalah : BUKA TAWARAN PERTAMA 1/4 HARGA YANG DIBILANG PENJUAL.
Prakteknya di lapangan, bisa macem-macem.

Om : 'Yang ini berapa?', menunjuk satu pohon cemara gede yang dipajang si tukang.
Jadi waktu itu beliau lagi nyari cemara buat dijadiin pohon Natal, naik bajaj langganannya.
Si tukang : 'SEGANA.'
Om menarik napas panjang.
Om : 'Masapohonseginidoangharganyasegitusih-kalojualanyangbenerdongmaulakugakpohonnya-maugakmaugakhahmaugak-yaudahsayagakmautaupokoknyasayaambilyanginiharganyaseginiburuanmasukinkebajaj!!!'

Di lain kesempatan, Om saya terdampar di satu kios bunga.
Om : 'Ini berapa?', menunjuk satu rangkaian cantik.
Si tukang : 'SEGANA.'
Om geleng-geleng.
Om : 'Kayak GINI doang SEGANA?!? Nih Mas, saya kasih tau gimana ngerangkai yang bener ya!?!!!'
Dengan mengusung prinsip anggap-aja-rumah-sendiri, Om saya mencomot bunga A dari ember ini, bunga B dari ember situ, bunga C dari pot sini, rumput dari ember sana, bunga D dari rangkaian sono. Pilih pot kosong, pangkas sedikit sana sini, JEBRET..rangkaian baru akhirnya jadi.
Om : 'Bikin bunga tuh kayak gini! Kalo kayak gini berapa? SEGINI ya? Nih, ambil.'


Hiiiwhhhh..
Rasanya saya nggak bakal kaget kalo suatu hari ada perang meletus cuma gara-gara Om saya merasa bisa nawar tempe 1000 perak dengan harga 1/4nya. Barangkali prinsip ekonomi kebanggaan Om saya ini cuman bisa digagalkan kalau larangan menawar dimasukkan di 10 Perintah Allah.
Yea, maybe it is not all about women. Maybe it is IN the blood.
Untungnya, sampai cerita ini diturunkan, saya belum ngeliat kecenderungan menderita penyakit yang sama.

Posted at 09:09 pm by marco!
Comments (5)  

Thursday, May 10, 2007
BIANG KEROK

Gini ya, teman-teman.
Saya akhirnya menemukan efek buruk yang ditimbulkan dari jasa tempat hiburan KARAOKE.
Ceritanya dimulai dari kegelisahan 5 anak manusia yang mencari hiburan halal di suatu Jumat malam. Setelah memutuskan siapa yang bisa diporot, akhirnya karaoke diputuskan sebagai pelampiasan tersehat saat itu; mengingat efek terburuk yang mungkin ditimbulkan hanyalah tuli atau rasa tidak percaya diri.

So. There we are.
Terdamparlah 2 jejaka dan 3 dara itu di karaoke di bilangan Fatmawati. Sampai di sana, tantangan pembuka diberikan mbak resepsionis.

Mbak resepsionis : Berapa jam?
4 kepala menoleh ke Jejaka 1, yang memikul beban membayar hajatan ini.
Jejaka 1 : 2! [tegas, lugas dan jelas]
Mbak resepsionis : 2 jam ya? Tapi kalau selesai nggak bisa tambah ya, soalnya rame.
Jejaka 1 dilema. Libido menyanyinya lagi kurang sejalan dengan kondisi kantong.
4 kepala di sebelahnya cuman bisa menatap dia dengan penuh harap.
Jejaka 1 : ..3 deh.


Jadilah 5 orang ini masuk ke bilik yang ditunjuk, memantapkan posisi pantat di sofa dan mulai menyiksa mikrofon. Playlist pun mulai merambah ke genre-genre yang sebenernya agak malu untuk diakui. Mungkin kalo Alda statusnya belum almarhum, lagunya bakal masuk daftar juga.
Nah. Kebetulan karaoke yang dipilih ini adalah yang sistem skor.
Meskipun saya tahu bahwa skor ini NGGAK ADA hubungannya sama skill nyanyi, tapi tetep ya, jiwa kompetitif susah dibohongin. Jadi begitu skor yang keluar buat saya cuman berkisar di 81-83, tetep aja saya protes. Temen saya yang dapet giliran nyanyi berikutnya mesti terima nasib jadi pembanding. Walhasil begitu skor dia keluar dan angkanya 99, jiwa superhero pembela kebenaran keluar.

Saya : KOK?!?? BISA 99?!???
Dara 1 : Bo, di sini skornya nggak peduli suara lo bagus apa enggak. Yang penting mah KENCENG!


Mendadak pikiran saya muter, balik lagi ke satu & dua tahun lalu waktu saya mencari sesuap nasi dengan cara mencari musuh : mendepak orang-orang yang merasa suaranya bagus.
Atau merasa bisa jadi penyanyi.

Saya : Pagi Mbak, mau nyanyi lagu apa?
Kontestan 7127530 : SENADA
[?!??!??]
Saya : Silahkan...
Kontestan 7127530 : SENADAAA cinta bersemi diantara kitaaaa...
[Mbak Mbak, judulnya Sakura. Ngarang Mbak? Masih yakin mau jadi penyanyi?!?]

**

Saya : Siang Mbak, silahkan, mau nyanyi apa?
Kontestan 666 : Nyanyinya langsung reff atau dari depan ya Mas?
Saya : Langsung reffnya aja ya
Kontestan 666 : Ngg..dari pertama aja deh Mas kalau gitu
[@&#*)&$% Kenapa nanya kalo gitu?!?!??!???]

**

Saya : Sore Mbak, silahkan langsung nyanyi aja ya.
Kontestan 981245 : Saya nyanyinya boleh sambil duduk ya Mas?
[??? Lho kok ngatur?? Duduknya di luar ruangan aja sekalian gimana?]


Atau yang dialami temen saya, si Neneng di ruangannya.


Si Neneng : Sore Mas, silahkan langsung nyanyi aja ya.
Kontestan 8309145 : 'Iniii hiduuuupppp, wanita si kufu-kufu malam'


Biasanya, cerita-cerita kayak gini akhirnya jadi obrolan seru para precaster pas lagi ngumpul makan siang. Ya mohon maap, kadang-kadang suka keterlaluan juga sih nekatnya.
Mbok ya kalo nggak bisa nyanyi, paling enggak mukanya rada beres dikit.
Kalo yang terjadi sebaliknya...ummmm...


Saya : Silahkan langsung nyanyi ya Mas.

Kontestan 12345 : 'nyanyanyanyinyinyinyunyunyu' (nyanyi ceritanya).
[ANJRIT! Suaranya bagus euy. TAPI MUKANYA?!?]
Saya : Umm..ada muka lain? ..eh maksud saya LAGU lain?


...
Kalo yang barusan kasusnya agak beda ya. Biasanya ini malah jadi tantangan tersendiri buat kuping dan mata para precaster. Masalahnya, yang jumlahnya RIBUAN justru yang suaranya nggak ada bagus-bagusnya. Balik lagi ke pertanyaan awal, yang sampai sekarang masih jadi MISTERI buat para precaster seperti saya dan si Neneng.
APA yang bikin mereka merasa bisa nyanyi? Atau SIAPA?

Dan, di Jumat malam di bilangan Fatmawati itulah, saya merasa ada titik terang dari misteri panjang ini.

Posted at 10:12 pm by marco!
Comments (4)  

Saturday, May 05, 2007
..onta, babi rusa, atau biawak??

BRUK!
Seonggok daging besar tergeletak di atas talenan raksasa berukuran + 80x200 cm.
Si Mas menarik napas panjang, mendengus dongkol sepelan-pelannya.


[Ya Allah, daging ini lagi?!?]
Ini kali keempat Si Mas dihadapkan pada daging seperti ini. Masalahnya, dia nggak pernah tau bagaimana mengurus daging seperti ini. Tapi atas nama profesionalisme, daging ini harus diperlakukan sama seperti daging-daging lain.

Oke, langkah pertama adalah membuat onggokan daging raksasa ini empuk.
Teken sini teken situ.
Penyet sana penyet sini.
Pukul sini pukul situ.
Segala daya upaya dikerahkan; mulai dari pakai jari, telapak tangan, sampai kepalan.

Aduh. Pegel. 
Si Mas merelaksasi kedua tangannya.
[BUSET. Ini daging onta, babi rusa, atau biawak ya?? TEBEL AMAAAAAT!!]
Lagi-lagi ini cuman umpatan yang bisa keluar di dalam hati.

Otak Si Mas berputar kencang.
Hmm..mungkin pakai minyak bisa lebih gampang.
Si Mas mengambil minyak yang sudah dia sediakan.
Sekarang, dengan berbalur minyak, Si Mas melancarkan serangan yang sama :
Teken sini teken situ.
Penyet sana penyet sini.
Pukul sini pukul situ.


Tes!
Satu tetes keringet jatuh di atas talenan.
Phew, untung nggak kena daging, pikir Si Mas.
Si Mas melirik ke daging di depannya. Rasanya nggak ada perubahan.
Daging apa pun itu, tetep di tempatnya. Paling bedanya, daging itu sekarang licin karena minyak.
Si Mas lalu melirik pasrah ke jam di dinding.
Senyum lebar tersungging di bibirnya.
YESSSSSSSSSSSS!! Passs 90 menit!!!
Sudah waktunya untuk lepas dari onggokan daging ini.



"Mas, silahkan. Kamar mandinya sudah siap."
Si Mas beringsut-ingsut pergi.
Sedikit ngilu di kiri kanan, saya bangun dari matras, melangkah-langkah riang menuju kamar mandi. Enak sekaliiiii pijat hari iniiiii!!!!

Posted at 07:39 pm by marco!
Comments (5)  

Tuesday, May 01, 2007
..terlalu cinta

Thanks to one of my late-nite-phone-friend, penyakit musiman Pisces saya muncul lagi beberapa malem lalu.
Situasinya mungkin kurang lebih seperti ini.
Seporsi besar rasa kangen, dicampur sedikit sindrom 'ih-lagu-ini-gue-banget'; aduk rata.
Tambah sedikit es batu bila suka; lalu nikmati saat bengong di kamar gelap, sembari ngerokok, sambil inget-inget masa lalu.
Hasilnya? PARRRRRRRRRRRRRRRRRAH BOS!
Mendadak merasa Dubai kayak tetangga seberang rumah; bisa dicapai sekali koprol.


@#&^(%#@ \@#^(`@ #$@#*!!?
Ketek.
Kangen.

Gawat. Kalo kayak gini, segala lagu murahan yang tema besarnya kangen bisa jadi favorit. Nggak menutup kemungkinan lagu-lagu Om Ebiet dan Tante Dian (Pisesa. Eh..Piesesa. Eh. Pishesa. Phisesa. Pieshesa? Piesesha. Watever. Itulah pokoknya).
Nah, salah satu lagu terkutuk yang lagi ada dalem playlist saya ya lagu ini.
Nggak perlu saya kasih tau siapa penyanyi, pencipta dan judul lagunya yaaa.
Nikmati aja lirik dan kekronisan akut yang mungkin dibuatnya.



Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi
Aku semakin tersiksa karna tak memilikimu
Kucoba jalani hari dengan pengganti dirimu
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku?

Tuhan, maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata
sesungguhnya aku terlalu cinta..
..dia.


Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku?

Tuhan, maafkan diri ini
Yang
tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta..
..dia

Aku terlalu cinta..dia




Sigh.

Posted at 09:28 pm by marco!
Comments (3)  

Sunday, April 29, 2007
Weekend Blast Pt. 3 : ratapan customer service

Malem minggu menawan pun berakhir dengan seru.
Bukan dengan lampu disko atau musik ajojing, tapi dengan pembicaraan seputar kegemaran tiap oknum di meja sushi untuk KOMPLAIN. Tentu setan yang menyulut pembicaraan ini tidak lain dan tidak bukan adalah saya sendiri, yang bercerita tentang protes yang baru saya tujukan ke manajemen parkir Senayan City lantaran bayar parkir mahal, cuma gara-gara alur keluar yang berliku-liku di basement.

[Tapi nggak tau kenapa ya, gue NGGAK PERNAH BISA marah sama customer service di telepon. Meskipun udah niat marah-marah dari pas mijit-mijit angka telpon, tapi begitu mbak-mbaknya ngomong, pasti ujung-ujungnya nggak tega!!]
Saya menetralkan sisi iblis saya dengan versi cerita-cerita malaikat. [Kasian bo..bayangin dia udah dimarahin berapa orang hari itu..]

Cerita berlanjut seputar pengalaman ketidakpuasan pelayanan, yang berujung ke intimidasi bagian customer service. Salah satu pakarnya adalah nona itu, yang dicurigai mulai menjadikan hal ini sebagai hobi baru dalam hidupnya.
Ketawa-ketiwi ngomongin siksa batin yang dialami profesi ini, sesi berandai-andai pun dimulai.

[Eh eh, kebayang nggak gimana stressnya ruangan customer service setiap telpon bunyi? Mungkin semua pada rebutan buat NGGAK NGANGKAT! 'Elo aja! Elo aja!'! HAKHAHKAHKAHKAKKK] Saya.
[Iya, iya! Terus mereka ngundi siapa yang ngangkat dengan cara muter botol!!]
[Terus begitu diangkat, ada sipirnya gitu yang jagain kayak sipir penjara, yang ngejagain kalo-kalo mereka mulai mengeluarkan kata 'TAPI' ke customer!]
[BWAHAHAHHAAAA! Udah gitu, ngingetinnya pake sok batuk gitu : 'Ehem, ehem!']
[Dan kalo mereka udah stress, ada satu bilik kecil gitu di ujung ruangan, yang isinya sansak tinju. Di pintunya ada jadwal penggunaan sansak per harinya!]
[Dan salah satu sansaknya ada tempelan muka si sipir!]
[Atau tempat buat nempel nomer telepon si customer! HUAHAHHAHAAAA!]
[Dan kalo masih stress juga, ada bilik lain yang isinya psikiater!!]


Hehe..
There you go.
Satu profesi yang nasibnya nggak lebih baik dari Ari Hanggara. Halal sih halal, tapi pikir-pikir lagi deh. Dibayar cuma buat dimaki-maki orang.
Atau jadi korban pengandai-andaian di meja-meja sushi di Kemang.

Posted at 05:05 pm by marco!
Make a comment  

Weekend Blast Pt. 2 : kembali, tentang etika per-BAND-an Indonesia...

Sedikit kapok dengan mall ber-icon Nadya Hutagalung tadi, saya dan temen-temen bergeser mencari tempat eksistensi lain yang relatif lebih 'murah'. Dimsum Festival Kemang.
Sushinya murah, enak, dan yang penting adalah besarnya kemungkinan untuk melirik dan dilirik orang banyak.

So there we go. 5 manusia kelaparan memesan sushi-sushian dengan ganas.
Sambil menunggu pesenan dateng, saya memilih untuk melakukan kegiatan yang konon dikutuk artis-artis Indonesia. Browsing MP3 & CD bajakan.
Dan, saat lagi berada di rak MP3 itulah, saya menyadari kreativitas pembajak-pembajak dalam menamai paket-paket bajakan ciptaannya.

"Indonesia Ampuh" Oke...masih bisa diterima nalar.
"Lima Kelima" ..lebih kedengeran seperti nama orang Sunda.
"Musik Merakyat"
"Gado-Gado Indonesia : Gw Punya Selera"

...
Dan gongnya adalah :
"Gw Obok-Obok Aje!"
HALAH!!!!
Sumpah mati saya nggak bohong, beneran ada MP3 yang dikasih nama begitu. Mungkin di saat mikirin apa nama kompilasi yang tepat, pembajaknya secara nggak sengaja ngeliat videoklip perdana Joshua di pentas permusikan Indonesia.

Eniwei.
Masih asik mencari alesan logis penamaan MP3-MP3 nggak bersalah ini, tiba-tiba mata saya terganggu satu nama band yang ada di beberapa MP3.
Ngecilin pupil buat menambah fokus.
Kucek-kucek mata.
Gedein mata. Ngecilin lagi. 
...Tetep nggak ada perubahan.
Ini beneran ya, ada yang ngasih nama bandnya : KUBURAN BAND??!????
Wait.
Terakhir yang saya tau, KUBURAN itu artinya makam, atau tempat peristirahatan terakhir mayat. Atau sekarang ada arti baru ya, yang bisa dijadiin materi jualan?
Penasaran, saya ngelirik ke list lagunya.
Salah satunya tercetak dengan sukses : SAKARATUL.
Okeeee. That explains enough.
Nggak sia-sia saya ngikutin sinetron-sinetron tipikal Hidayah.
Saya pun membawa penemuan baru ini ke meja tempat sushi dan kawan-kawan saya menunggu.

[Just when I thought nama band teraneh adalah KANGEN, tadi gue liat ada band yang judulnya KUBURAN]. Saya.
BWAHAKHKAHKAKAKAHKHAKAKKAKAKAKAKKK!
Belum apa-apa beberapa penghuni meja udah ketawa.

[Eh, tapi beneran lho. Lo udah liat belom wujudnya KANGEN BAND itu kayak apa?]
Salah satu temen saya meramaikan suasana. [Itu yaaa, kalo lo liat vokalisnya, sekonyong-konyong lo akan merasa Ian Kasela itu .... ]

Hening sesaat.
Keliatannya temen saya bingung mencari kata sifat yang passss untuk mengakhiri kalimatnya sendiri. Kelamaan, saya coba membantu.

[..ganteng??]
. Saya.
[YA NGGAK LAHHHH!!! Ian Kasela darimana gantengnya?!?]. Temen saya protes.
[Eh nggak boleh gitu. Mungkin dulu juga dia melewati masa-masa itu].
[TETEP AJA BUKAN BERARTI SEKARANG GANTENG!?! Pokoknya kalo lo tau Ian Kasela, nah wujud si vokalis KANGEN BAND ini satu layer di bawahnya!]
BWAHAHAHAKHKAHKHKHAKHKAHKAHKHAKHKAHKAKKK!!!


See?
I was not the only one who sees it that way.
Jadi buat adik-adik yang ingin membentuk band baru, coba sedikit lebih selektif memilih vokalisnya ya. Meskipun ujung-ujungnya diomongin orang karena suka menebar benih di seantero Indonesia ya, at least di meja sushi kami dia nggak diperbandingkan dengan Ian Kasela..

Posted at 03:30 pm by marco!
Comment (1)  

Next Page