|

Perkenalkan teman saya, Miss B. A woman in her late 20s, or maybe early 30s. Single, and (looks) happy with her life. Very smart. Definitely loves her job so much, mengacu pada fakta bahwa dia udah menggauli pekerjaannya sekarang lebih dari 5 tahun. In short, PURE YIFFIES. She can have anything in her life. ...sampai akhirnya saya menemukan sebuah fakta menarik dari sebuah perbincangan dengan temen perempuan saya yang lain di depan lift.
Me : 'Bo. Orang itu namanya siapa ya?' Berbisik, saya menunjuk satu laki-laki yang lagi berdiri manis depan lift Her : 'Mr. X' Me : 'Oh. Bagian mana ya?' Her : 'Nggak tau. Yang pasti dia pacarnya Miss B.' Me : WHAT? Seriously?? Her : HUSH. Udah deh, nggak usah berisik. Itu udah rahasia umum. Me : Kalo udah jadi rahasia umum kenapa nggak boleh berisik? Her : 'coz he's married.
Mengutip kata komedian berinisial K yang paling saya benci sesudah Cagur : Uhuy! Ain't life full of surprises. Actually, I really don't mind office affairs. Been dealing with it for ages, tapi tentu bukan sebagai pelaku utama. Cukup menjadi pendengar yang baik di tengah malam buta, nemenin orang handstand saat ngeliat pacarnya mesra-mesraan sama pasangan sahnya di depan mata, sampai nungguin orang selesai mewek waktu akhirnya diputusin sama pasangan sebenernya. Yang lebih mengganggu sebenernya adalah fakta bahwa ini terjadi sama seseorang yang (menurut saya) kelihatannya nggak akan bertekuk lutut sama seorang laki-laki yang udah punya istri.
Me : 'Seriously? Bo. Miss B nggak mungkin deh seperti itu.' Her : 'Kenapa enggak?' Me : 'Miss B gitu loh. She doesn't need men in her life. Kalaupun iya, she can have ANY MAN SHE WANTS in her life!!' Her : 'Well maybe SHE CAN'T.'
Ohohoho. Lesson #1 learned : Sekeras apa pun benteng yang (keliatannya) dibentuk seseorang, ternyata masih ada bagian lemah di dalamnya yang tetep rapuh kalau disentuh dengan manis. Or is it just women? I don't know. You tell me. Meanwhile, masih ada satu hal lagi yang belum tuntas diselesaikan.
Me : 'Well, let's then assume that she CAN'T. Tapi kenapa dia? Yang udah punya ISTRI??' Her : 'What's wrong with that? I also find married guys attractive.' Me : 'WHAT???' Her : 'Lho emang kenapa? Pertama, terbukti mapan. Kalo udah punya anak, terbukti it 'worked'! What else?' Me : 'But it would only make you sound like a bi**h!' Her : 'Hey. Wanting some perfection is not a crime, right?'
Well. She got her point there. Emang sih, nggak ada benchmark legal ataupun ilegal dari 'perfection', terutama kalau yang berbicara adalah hati. Tapi yang saya masih belum ngerti (dan mencoba untuk ngerti) adalah bahwa kesempurnaan ini didapat dari orang yang udah menikah. SEANDAINYA, orang yang sama persis berstatus masih lajang. Would you still go for it? Apa ini cuman terjadi sama perempuan? Atau semua seperti itu? Buat laki-laki sih, (rasanya) biasanya adrenalin emang lebih terpacu kalau orang diincer ini sudah punya pasangan. Tapi menikah? Hummm...saya sih nggak pernah berpikir untuk mencoba melangkah ke sana ya. Soalnya saya sendiri nggak mau satu hari nanti itu terjadi sama saya.
Jadi mari kita tutup renungan kecil hari ini dengan mengulang pertanyaannya dengan sebuah contoh sederhana. Did you REALLY find SBY more attractive than...umm.. Krisna Mukti?? Wait. Salah contoh. Did you REALLY find SBY more attractive than... Bams Samsons?? Ya apa pun lah contohnya. I would like to know the (most logical) reason why.
|